Nama lengkap Imam Ahmad adalah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal Asy Syaibani. Beliau adalah seorang ulama hadits terkemuka, baik pada masanya ataupun sesudahnya.
Menurut riwayat yang masyhur, beliau dilahirkan di Kota Baghdad pada bulan Rabi’ul Awwal tahun 164 H (780 M), ketika masa pemerintahan Islam dipegang oleh Khalifah Muhammad al Mahdi dari Bani ‘Abbasiyyah ke III.
Nasab dan Kunyah (Julukan)
Bila diselidiki dengan cermat, nasab Imam Ahmad sama dengan Imam Asy Syafi’i, yakni bersambung dengan kakek yang menurunkan Nabi Muhammad shallaahu’alaihi wa sallam. Jika Imam Asy Syafi’i bersambung dengan kakek Nabi shallaahu’alaihi wa sallam yang ketiga, ‘Abdul Manaf. Sedangkan silsilah Imam Ahmad bersambung dengan kakek yang ke delapan belas, yakni Nizar. Jelasnya, Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal bin Asas bin Idris bin ‘Abdullah bin Hajyan bin ‘Abdullah bin Anas bin ‘Auf bin Qasith bin Mazin bin Syaiban bin Dzahal Tsa’labah bin Akabah bin Sha’ab bin ‘Ali bin Bakar bin Muhammad bin Wa`il bin Qashit bin Afshiy bin Damiy bin Jadhah bin Asad bin Rabi’ah bin Nizar bin Ma’an bin Adnan.
Berdasarkan silsilah nasab di atas -sebagaimana yang dikemukakan oleh ahli sejarah- maka nasab Imam Ahmad serumpun dengan Nabi shallaahu’alaihi wa sallam, karena yang menurunkan Nabi shallaahu’alaihi wa sallam adalah Mudhar bin Nizar.
Menurut catatan tarikh, kendati ayah beliau bernama Muhammad, namun beliau lebih dikenal dengan Ibnu Hanbal (nisbat kepada kakeknya). Setelah mempunyai beberapa putra yang diantaranya bernama ‘Abdullaah, maka beliau pun lebih sering dipanggil dengan sebutan Abu ‘Abdillah. Akan tetapi berkenaan dengan madzhabnya, maka kaum muslimin saat itu lebih menyebutnya sebagai Madzhab Hanbali, dan sama sekali tidak menisbatkan dengan kunyah tersebut.
Pertumbuhan dan Semangat Keilmuan
Sejak kecil, yang mulia Imam Ahmad kendati dalam keadaan yatim dan miskin, namun berkat bimbingan ibunya yang shalihah, beliau mampu menjadi manusia yang teramat cinta kepada ilmu, kebaikan dan kebenaran.
Dalam usianya yang masih dini yakni 16 tahun, setelah menamatkan pendidikannya di kota Baghdad, beliau berangkat ke Kufah, Bashrah, Syam, Yaman, Jazirah, Makkah dan Madinah. Perjalanan yang jauh dan cukup melelahkan ini, tidak ada bekal bagi Imam Ahmad, selain dari semangat, keprihatinan dan do’a ibunya.
Dikabarkan, demi untuk membiayai perjalanan keilmuan teresebut beliau sampai menyewakan pusaka ayahnya, yakni sebuah rumah dan baju sulam. Demikian pula dalam suatu riwayat, ketika beliau kehabisan bekal di tengah perjalanan saat menuju kota Shan’a ( Yaman), maka dengan penuh keprihatinan beliau terpaksa bekerja pada sebuah kafilah. Dan pada kesempatan lain, guna menutupi kebutuhannya beliau terpaksa menjual baju kurungnya. Hal itu beliau lakukan tiada lain demi memelihara dirinya dari meminta atau ditolong.
Sungguh pun demikian, dalam suasana yang serba kekurangan itu, tekad Imam Ahmad di dalam menuntut ilmu tidak pernah berkurang. Bahkan lebih terpuji lagi, sekalipun beliau sudah menjadi Imam dan diikuti oleh banyak kaum muslimin, pekerjaannya menuntut ilmu dan mendatangi guru-guru yang lebih ‘alim tidak pernah berhenti.
Melihat keteguhannya di dalam menuntut ilmu dan semangatnya yang tidak pernah pudar, seraya orang pun bertanya, “Sampai kapan engkau berhenti mencari ilmu, padahal engkau sekarang sudah mencapai kedudukan yang tinggi dan telah pula menjadi imam bagi kaum muslimin?” Maka beliau pun menkawabnya dengan singkat, “Beserta tinta sampai liang lahat.”
Guru-guru Imam Ahmad
Banyak sekali ilmu yang dipelajari oleh Imam Ahmad, dan beliau sangat menguasainya dalam setiap sisi. Terutama ilmu hadits, maka bidang yang satu ini hingga usia lanjut telah banyak menarik perhatiannya. Sehingga tidak saja sejuta hadits beliau hafal di luar kepala, akan tetapi sekaligus bersama mata rantai Sanad dan ihwal perawinya.
Betapapun jua, beliau dengan segenap ketekunannya memperoleh kelebihan yang langka dan jarang tandingannya ini adalah berkat guru-gurunya yang sangat terpilih, terkenal dan amat piawai dalam bidangnya. Misalnya dari kalangan Ahli Hadits adalah Yahya bin Sa’id al Qathan, Abdurrahman bin Mahdi, Yazid bin Harun, Sufyan bin Uyainah dan Abu Daud Ath Thayalisi. Sedang dari kalangan ahli fiqih adalah Waki’ bin Jarrah, Muhammad bin Idris Asy Syafi’i dan Abu Yusuf, sahabat Abu Hanifah dan lainnya.
Kemudian dalam perkembangan selanjutnya, beliau pun menjadi seorang alim yang terkemuka dan besar pengaruhnya, terkenal tekun di dalam melacak rawi-rawi hadits yang banyak diantaranya tidak lebih dari si penabur bid’ah dan kesesatan. Beliau juga terkenal gigih dan berani di dalam menangkis berbagai paham yang berusaha memalingkan umat dari agamanya.
Copyright © 2024 muslimah.or.id
Pujian Ulama kepada Imam Ahmad
Berkata Imam Al Hasan bin Ar Rabi’, “Jikalau tidak ada Imam Ahmad, niscaya banyak orang yang mengada-adakan bid’ah dalam agama.”Berkata pula Imam Ibnu Qutaibah, “Sesudah wafat Imam Ats Tsauri lenyaplah wara’ (sikap berhati-hati dalam agama), sesudah wafat Imam Asy Syafi’i lenyaplah Sunnah, dan nanti sesudah wafat Imam Ahmad, maka perbuatan bid’ah akan merajalela. Selain Ar Rabi’ dan Ibnu Qutaibah, seorang ahli hadits terkemuka dan ternama bernama Imam Ali al Madini juga berkata tentang kebesaran Imam Ahmad bin Hanbal ini, “Semoga Allah subhanallahu wa ta’ala memelihara Ahmad bin Hanbal, karena ia pada hari ini menjadi hujjah Allah subhanallahu wa ta’ala atas segenap makhluk-Nya.”
Zahid, Dermawan dan Ahli Ilmu
Meskipun seorang yang selalu menderita kekurangan namun beliau sangat memelihara kehormatan dirinya. Bahkan dalam keadaan papa tersebut beliau senantiasa berusaha menolong dan menjadikan tangannya selalu di atas. Berkata Imam Yahya bin Hilal al Warraq, “Aku pernah berkunjung kepada Imam Ahmad, kemudian beliau mengeluarkan empat dirham kepadaku, dan berkata, ‘Ini semua yang aku punya pada hari ini untukmu.”
Sedemikian dermawannya Imam Ahmad, beliau pun tidak pernah gusar hatinya untuk mendermakan sesuatu yang dimiliki satu-satunya pada hari itu. Seperti yang disaksikan oleh Imam Harun al-Mustamili, “Pada suatu tempat, aku pernah berbincang-bincang dengan Imam Ahmad, kemudian aku berkata kepadanya, hari ini aku tidak mempunyai sesuatu pun. Maka seketika itu beliau memberiku lima dirham, sambil berkata, “Aku tidak memiliki lagi sesuatu selain ini.”
Selanjutnya, di samping kearifan dan kedermawanannya yang memikat, Imam Ahmad pun terkenal seorang yang zuhud dan wara’. Bersih hatinya dari segala macam pengaruh kebendaan, serta menyibukkan diri dengan dzikir dan membaca Al Qur’an, atau pula menghabiskan seluruh usianya untuk membersihkan agama dan mengikisnya dari kotoran-kotoran bid’ah dan pikiran yang sesat. Berkata Sulaiman bin al Asy’ats, “Aku belum pernah mendengar Imam Ahmad menyebut urusan keduniaan. Dan apabila beliau merasa lapar, diambilnya pecahan-pecahan roti kering, lalu dihembuskannya supaya keluar debunya, kemudian direndam ke dalam air di dalam pinggan besar sampai basah, sesudah itu barulah dimakannya dengan garam.”
Demi memelihara kezuhudan, kehormatan dan martabat ilmunya itu, tidak sedikit Imam Ahmad menolak berbagai pemberian dari para hartawan dan bangsawan. Dan bila pun beliau menerima suatu bingkisan atau hadiah dari tetangganya, maka seketika itu pula beliau membalasnya dengan yang setimpal bahkan lebih, sebagaimana yang telah disaksikan oleh Imam al Marwazi, “Pada suatu hari Imam Ahamad menerima pemberian air zam-zam dari seorang sahabatnya, kemudian seketika itu pula beliau memberi balasan dengan gandum yang baik dan gula. Imam Ahmad, sebagaimana para pendahulunya, beliau kerap kali banyak menghadapi kesulitan dan berbagai cobaan dari para penguasa. Akan tetapi berkat kezuhudan dan sikapnya yang senantiasa menjadikan akhirat di depan matanya, maka semua itu sedikit pun tidak menghentikan beliau dari kegiatannya mengajar dan menimba ilmu, sehingga pengetahuannya pun semakin bertambah dan kian bertambah.Imam Abu Razaq berkata, “Sesungguhnya aku belum pernah melihat seseorang yang lebih pandai tentang urusan hukum agama dan lebih teliti perbuatannya selain Imam Ahmad bin Hanbal.” Imam Ibrahim al-Harbi juga berkata, “Kalau aku melihat Imam Ahmad, seolah-olah Allah subhanallahu wa ta’ala menghimpunkan kepadanya pengetahuan orang-orang dahulu dan orang-orang yang datang kemudian.”
Copyright © 2024 muslimah.or.id
**************************
Nama dan Nasab:
Kunyah beliau Abu Abdillah, namanya Ahmad bin Muhammad bin Hambal bin Hilal bin Asad Al Marwazi Al Baghdadi. Ayah beliau seorang komandan pasukan di Khurasan di bawah kendali Dinasti Abbasiyah. Kakeknya mantan Gubernur Sarkhas di masa Dinasti Bani Umayyah, dan di masa Dinasti Abbasiyah menjadi da’i yang kritis.
Kelahiran Beliau:
Beliau dilahirkan di kota Baghdad pada bulan Rabi’ul Awwal tahun 164 Hijriyah. Beliau tumbuh besar di bawah asuhan kasih sayang ibunya, karena bapaknya meninggal dunia saat beliau masih berumur belia, tiga tahun. Meski beliau anak yatim, namun ibunya dengan sabar dan ulet memperhatian pendidikannya hingga beliau menjadi anak yang sangat cinta kepada ilmu dan ulama karena itulah beliau kerap menghadiri majlis ilmu di kota kelahirannya.
Awal mula Menuntut Ilmu
Ilmu yang pertama kali dikuasai adalah Al Qur’an hingga beliau hafal pada usia 15 tahun, beliau juga mahir baca-tulis dengan sempurna hingga dikenal sebagai orang yang terindah tulisannya. Lalu beliau mulai konsentrasi belajar ilmu hadits di awal umur 15 tahun itu pula.
Keadaan fisik beliau:
Muhammad bin ‘Abbas An-Nahwi bercerita, Saya pernah melihat Imam Ahmad bin Hambal, ternyata Badan beliau tidak terlalu tinggi juga tidak terlalu pendek, wajahnya tampan, di jenggotnya masih ada yang hitam. Beliau senang berpakaian tebal, berwarna putih dan bersorban serta memakai kain.
Yang lain mengatakan, “Kulitnya berwarna coklat (sawo matang)”
Keluarga beliau:
Beliau menikah pada umur 40 tahun dan mendapatkan keberkahan yang melimpah. Beliau melahirkan dari istri-istrinya anak-anak yang shalih, yang mewarisi ilmunya, seperti Abdullah dan Shalih. Bahkan keduanya sangat banyak meriwayatkan ilmu dari bapaknya.
Kecerdasan beliau:
Putranya yang bernama Shalih mengatakan, Ayahku pernah bercerita, “Husyaim meninggal dunia saat saya berusia dua puluh tahun, kala itu saya telah hafal apa yang kudengar darinya”.
Abdullah, putranya yang lain mengatakan, Ayahku pernah menyuruhku, “Ambillah kitab mushannaf Waki’ mana saja yang kamu kehendaki, lalu tanyakanlah yang kamu mau tentang matan nanti kuberitahu sanadnya, atau sebaliknya, kamu tanya tentang sanadnya nanti kuberitahu matannya”.
Abu Zur’ah pernah ditanya, “Wahai Abu Zur’ah, siapakah yang lebih kuat hafalannya? Anda atau Imam Ahmad bin Hambal?” Beliau menjawab, “Ahmad”. Beliau masih ditanya, “Bagaimana Anda tahu?” beliau menjawab, “Saya mendapati di bagian depan kitabnya tidak tercantum nama-nama perawi, karena beliau hafal nama-nama perawi tersebut, sedangkan saya tidak mampu melakukannya”. Abu Zur’ah mengatakan, “Imam Ahmad bin Hambal hafal satu juta hadits”.
Pujian Ulama terhadap beliau:
Abu Ja’far mengatakan, “Ahmad bin Hambal manusia yang sangat pemalu, sangat mulia dan sangat baik pergaulannya serta adabnya, banyak berfikir, tidak terdengar darinya kecuali mudzakarah hadits dan menyebut orang-orang shalih dengan penuh hormat dan tenang serta dengan ungkapan yang indah. Bila berjumpa dengan manusia, maka ia sangat ceria dan menghadapkan wajahnya kepadanya. Beliau sangat rendah hati terhadap guru-gurunya serta menghormatinya”.
Imam Asy-Syafi’i berkata, “Ahmad bin Hambal imam dalam delapan hal, Imam dalam hadits, Imam dalam Fiqih, Imam dalam bahasa, Imam dalam Al Qur’an, Imam dalam kefaqiran, Imam dalam kezuhudan, Imam dalam wara’ dan Imam dalam Sunnah”.
Ibrahim Al Harbi memujinya, “Saya melihat Abu Abdillah Ahmad bin Hambal seolah Allah gabungkan padanya ilmu orang-orang terdahulu dan orang-orang belakangan dari berbagai disiplin ilmu”.
Kezuhudannya:
Beliau memakai peci yang dijahit sendiri. Dan kadang beliau keluar ke tempat kerja membawa kampak untuk bekerja dengan tangannya. Kadang juga beliau pergi ke warung membeli seikat kayu bakar dan barang lainnya lalu membawa dengan tangannya sendiri. Al Maimuni pernah berujar, “Rumah Abu Abdillah Ahmad bin Hambal sempit dan kecil”.
Tekunnya dalam ibadah
Abdullah bin Ahmad berkata, “Bapakku mengerjakan shalat dalam sehari-semalam tiga ratus raka’at, setelah beliau sakit dan tidak mampu mengerjakan shalat seperti itu, beliau mengerjakan shalat seratus lima puluh raka’at.
Wara’ dan menjaga harga diri
Abu Isma’il At-Tirmidzi mengatakan, “Datang seorang lelaki membawa uang sebanyak sepuluh ribu (dirham) untuk beliau, namun beliau menolaknya”. Ada juga yang mengatakan, “Ada seseorang memberikan lima ratus dinar kepada Imam Ahmad namun beliau tidak mau menerimanya”. Juga pernah ada yang memberi tiga ribu dinar, namun beliau juga tidak mau menerimanya.
Tawadhu’ dengan kebaikannya:
Yahya bin Ma’in berkata, “Saya tidak pernah melihat orang yang seperti Imam Ahmad bin Hambal, saya berteman dengannya selama lima puluh tahun dan tidak pernah menjumpai dia membanggakan sedikitpun kebaikan yang ada padanya kepada kami”.
Beliau (Imam Ahmad) mengatakan, “Saya ingin bersembunyi di lembah Makkah hingga saya tidak dikenal, saya diuji dengan popularitas”.
Iklan
Al Marrudzi berkata, “Saya belum pernah melihat orang fakir di suatu majlis yang lebih mulia kecuali di majlis Imam Ahmad, beliau perhatian terhadap orang fakir dan agak kurang perhatiannya terhadap ahli dunia (orang kaya), beliau bijak dan tidak tergesa-gesa terhadap orang fakir. Beliau sangat rendah hati, begitu tinggi ketenangannya dan sangat memuka kharismanya”.
Beliau pernah bermuka masam karena ada seseorang yang memujinya dengan mengatakan, “Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan atas jasamu kepada Islam?” beliau mengatakan, “Jangan begitu tetapi katakanlah, semoga Allah membalas kebaikan terhadap Islam atas jasanya kepadaku, siapa saya dan apa (jasa) saya?!”
Sabar dalam menuntut ilmu
Tatkala beliau pulang dari tempat Abdurrazzaq yang berada di Yaman, ada seseorang yang melihatnya di Makkah dalam keadaan sangat letih dan capai. Lalu ia mengajak bicara, maka Imam Ahmad mengatakan, “Ini lebih ringan dibandingkan faidah yang saya dapatkan dari Abdirrazzak”.
Hati-hati dalam berfatwa:
Zakariya bin Yahya pernah bertanya kepada beliau, “Berapa hadits yang harus dikuasai oleh seseorang hingga bisa menjadi mufti? Apakah cukup seratus ribu hadits? Beliau menjawab, “Tidak cukup”. Hingga akhirnya ia berkata, “Apakah cukup lima ratus ribu hadits?” beliau menjawab. “Saya harap demikian”.
Kelurusan aqidahnya sebagai standar kebenaran
Ahmad bin Ibrahim Ad-Dauruqi mengatakan, “Siapa saja yang kamu ketahui mencela Imam Ahmad maka ragukanlah agamanya”. Sufyan bin Waki’ juga berkata, “Ahmad di sisi kami adalah cobaan, barangsiapa mencela beliau maka dia adalah orang fasik”.
Masa Fitnah:
Pemahaman Jahmiyyah belum berani terang-terangan pada masa khilafah Al Mahdi, Ar-Rasyid dan Al Amin, bahkan Ar-Rasyid pernah mengancam akan membunuh Bisyr bin Ghiyats Al Marisi yang mengatakan bahwa Al Qur’an adalah makhluq. Namun dia terus bersembunyi di masa khilafah Ar-Rasyid, baru setelah beliau wafat, dia menampakkan kebid’ahannya dan menyeru manusia kepada kesesatan ini.
Di masa khilafah Al Ma’mun, orang-orang jahmiyyah berhasil menjadikan paham jahmiyyah sebagai ajaran resmi negara, di antara ajarannya adalah menyatakan bahwa Al Qur’an makhluk. Lalu penguasa pun memaksa seluruh rakyatnya untuk mengatakan bahwa Al Qur’an makhluk, terutama para ulamanya.
Barangsiapa mau menuruti dan tunduk kepada ajaran ini, maka dia selamat dari siksaan dan penderitaan. Bagi yang menolak dan bersikukuh dengan mengatakan bahwa Al Qur’an Kalamullah bukan makhluk maka dia akan mencicipi cambukan dan pukulan serta kurungan penjara.
Karena beratnya siksaan dan parahnya penderitaan banyak ulama yang tidak kuat menahannya yang akhirnya mengucapkan apa yang dituntut oleh penguasa zhalim meski cuma dalam lisan saja. Banyak yang membisiki Imam Ahmad bin Hambal untuk menyembunyikan keyakinannya agar selamat dari segala siksaan dan penderitaan, namun beliau menjawab, “Bagaimana kalian menyikapi hadits “Sesungguhnya orang-orang sebelum Khabbab, yaitu sabda Nabi Muhammad ada yang digergaji kepalanyarkalian namun tidak membuatnya berpaling dari agamanya”. HR. Bukhari 12/281. lalu beliau menegaskan, “Saya tidak peduli dengan kurungan penjara, penjara dan rumahku sama saja”.
Ketegaran dan ketabahan beliau dalam menghadapi cobaan yang menderanya digambarkan oleh Ishaq bin Ibrahim, “Saya belum pernah melihat seorang yang masuk ke penguasa lebih tegar dari Imam Ahmad bin Hambal, kami saat itu di mata penguasa hanya seperti lalat”.
Iklan
Di saat menghadapi terpaan fitnah yang sangat dahsyat dan deraan siksaan yang luar biasa, beliau masih berpikir jernih dan tidak emosi, tetap mengambil pelajaran meski datang dari orang yang lebih rendah ilmunya. Beliau mengatakan, “Semenjak terjadinya fitnah saya belum pernah mendengar suatu kalimat yang lebih mengesankan dari kalimat yang diucapkan oleh seorang Arab Badui kepadaku, “Wahai Ahmad, jika anda terbunuh karena kebenaran maka anda mati syahid, dan jika anda selamat maka anda hidup mulia”. Maka hatiku bertambah kuat”.
Ahli hadits sekaligus juga Ahli Fiqih
Ibnu ‘Aqil berkata, “Saya pernah mendengar hal yang sangat aneh dari orang-orang bodoh yang mengatakan, “Ahmad bukan ahli fiqih, tetapi hanya ahli hadits saja. Ini adalah puncaknya kebodohan, karena Imam Ahmad memiliki pendapat-pendapat yang didasarkan pada hadits yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia, bahkan beliau lebih unggul dari seniornya”.
Bahkan Imam Adz-Dzahabi berkata, “Demi Allah, beliau dalam fiqih sampai derajat Laits, Malik dan Asy-Syafi’i serta Abu Yusuf. Dalam zuhud dan wara’ beliau menyamai Fudhail dan Ibrahim bin Adham, dalam hafalan beliau setara dengan Syu’bah, Yahya Al Qaththan dan Ibnul Madini. Tetapi orang bodoh tidak mengetahui kadar dirinya, bagaimana mungkin dia mengetahui kadar orang lain!!
Guru-guru Beliau
Imam Ahmad bin Hambal berguru kepada banyak ulama, jumlahnya lebih dari dua ratus delapan puluh yang tersebar di berbagai negeri, seperti di Makkah, Kufah, Bashrah, Baghdad, Yaman dan negeri lainnya. Di antara mereka adalah:
1. Ismail bin Ja’far
2. Abbad bin Abbad Al-Ataky
3. Umari bin Abdillah bin Khalid
4. Husyaim bin Basyir bin Qasim bin Dinar As-Sulami
5. Imam Asy-Syafi’i.
6. Waki’ bin Jarrah.
7. Ismail bin Ulayyah.
8. Sufyan bin ‘Uyainah
9. Abdurrazaq
10. Ibrahim bin Ma’qil.
Murid-murid Beliau:
Umumnya ahli hadits pernah belajar kepada imam Ahmad bin Hambal, dan belajar kepadanya juga ulama yang pernah menjadi gurunya, yang paling menonjol adalah:
1. Imam Bukhari.
2. Muslim
3. Abu Daud
4. Nasai
5. Tirmidzi
6. Ibnu Majah
7. Imam Asy-Syafi’i. Imam Ahmad juga pernah berguru kepadanya.
8. Putranya, Shalih bin Imam Ahmad bin Hambal
9. Putranya, Abdullah bin Imam Ahmad bin Hambal
10. Keponakannya, Hambal bin Ishaq
11. dan lain-lainnya.
Wafat beliau:
Setelah sakit sembilan hari, beliau Rahimahullah menghembuskan nafas terakhirnya di pagi hari Jum’at bertepatan dengan tanggal dua belas Rabi’ul Awwal 241 H pada umur 77 tahun. Jenazah beliau dihadiri delapan ratus ribu pelayat lelaki dan enam puluh ribu pelayat perempuan.
Karya beliau sangat banyak, di antaranya:
1. Kitab Al Musnad, karya yang paling menakjubkan karena kitab ini memuat lebih dari dua puluh tujuh ribu hadits.
2. Kitab At-Tafsir, namun Adz-Dzahabi mengatakan, “Kitab ini hilang”.
3. Kitab Az-Zuhud
4. Kitab Fadhail Ahlil Bait
5. Kitab Jawabatul Qur’an
6. Kitab Al Imaan
7. Kitab Ar-Radd ‘alal Jahmiyyah
8. Kitab Al Asyribah
9. Kitab Al Faraidh
Terlalu sempit lembaran kertas untuk menampung indahnya kehidupan sang Imam. Sungguh sangat terbatas ungkapan dan uraian untuk bisa memaparkan kilauan cahaya yang memancar dari kemulian jiwanya. Perjalanan hidup orang yang meneladai panutan manusia dengan sempurna, cukuplah itu sebagai cermin bagi kita, yang sering membanggakannya namun jauh darinya.
Dikumpulkan dan diterjemahkan dari kitab Siyar A’lamun Nubala
Karya Al Imam Adz-Dzahabi Rahimahullah
Sumber: Majalah As Salam
*****************************************************************
Scholar: Ahmad bin Hanbal [Abu 'Abdullah]
3rd Century AH [10th generation] [Hanbali]
Full Name: Ahmed bin Muhammad b. Hanbal b. Hilaal b. As’ad b. Idrees b. 'Abdullah b. Hayyaan b. 'Abdullah
Parents: Muhammad Ibn Hanbal / Saffiyah bint Maimoonah bint 'Abdul Malik
Birth Date/Place: 164 AH/780 CE (Basra)
Death Date/Place: 241 AH/855 CE (Baghdad)[ Natural ]
Places of Stay: Baghdad/Syria/Hijaz
Area of Interest: Fiqh, Hadith, Narrator[Grade:Thiqah Thiqah] [ ع - ثقة حافظ ], Tafsir/Quran, Aqeedah
Spouse(s): Umm Abi 'Abbash, Raihanah, Husn(Slave)
Children : 'Abdullah bin Ahmed bin Hanbal, Salah
Teachers/Narrated From: Bashr bin al-Mufadl bin Lahaq, Isma'il bin Ibrahim - Ibn 'Aliya, Sufyan bin 'Uyaynah, Jarir bin 'Abdul Hameed al-Razi, Yahya bin Sa'id bin Farroukh al-Qatan, Sulaiman bin Da'ud bin al-Jarud, 'Abdullah bin Numayr, 'Abdur-Razzaq, 'Ali bin 'Ayyash, Imam Shafi'ee, Muhammad bin Ja'far Ghandar, Ma'tmar bin Sulaiman-al-Taufayl, Several Others
Students/Narrated By: al-Bukhari, Imam Muslim, Abu Da'ud, الباقون مع البخاري أيضا بواسطة, al-'Aswad bin 'Amir Shadhan, 'Abdur Rahman bin Mahdi, Imam Shafi'ee, Hisham bin 'Abdul Malik al-Tayalasi, 'Abdur-Razzaq, Waki' bin al-Jarrah, Yahya bin Aadm bin Sulaiman, Yazid bin Harun, (His Shaikh), Qutayba bin Sa'id bin Jamil, Da'ud bin 'Amr bin Zuhayr, Khlf bin Hisham bin Th'lb, (older than him), Ahmed bin Abi al-Hawari, Yahya bin Ma'in, 'Ali bin al-Madini, al-Husain bin Mnswr bin Ja'far, Ziyad bin Ayoub - Dulwiyya, 'Abdur Rahman bin Ibrahim, 'Ubaidullah bin Sa'id, Muhammad bin Rafa'i, Muhammad bin Yahya bin Abi Samina, (From peers), 'Abdullah bin Ahmed bin Hanbal, تلامذته أبو بكر الأثرم, حرب الكرماني, بقي بن مخلد, حنبل بن إسحاق, شاهين بن السميدع, Muhammad bin Ziyad al-Yshkry
Analysis: [Family Tree 1] [Family Tree 2] [Teachers Timeline] [ Students Timeline] [Teachers & Students Timeline] [Teacher/Student Tree] [Chains to companions] [Teacher list by town] [Student list by town]
Brief Biography:
Student of Imam Shafi'i, Scholar of Fiqh (Jurisprudence). From the foremost of his students are: his two sons, Salih and Abdullah, Hanbal ibn Ishaq, al-Marrudhi, al-Kawsaj, Ibn Hani, Abu Dawud (compiler of Sunan Abi Dawud), al-Athram, Abu Zur’ah al-Razi, Abu Hatim al-Razi, ‘Abdul-Wahhab al-Warraq, al-Tirmidhi and many others.
He studied the Hadeeth and Fiqh together with other Islaamic disciplines in Baghdad, then travelled to Ash-Sham and Hijaz for further studies. He was persecuted during the rule of Al-Ma'mun bin Harun Ar-Rashid for refusing to acknowledge the Bid'aa (innovation) of claiming that the Qur'aan was the creation of Allaah, introduced by the Mu' tazila. He however, stood firm against all the trials and saved the Sunnah from the innovation of the wretched Mu 'tazila thoughts. He was the mostly persecuted and most firm one amongst all the Imam. He is most famous for collecting the Hadeeth of the Prophet compiled in the Musnad Ahmad bin Hanbal, which contain 28 to 29 thousand Hadeeth. It was said that Ibn Hanbal memorized one million Hadeeth. Ibn Hanbal died in Baghdad on Friday, 12 Rabi '-ul-Awwal 241 H. The Creed of the Ahlus-Sunnahh is that the Qur'aan is the Kalaam or Word of Allaah.
References: 10[pg:12] View
Thiqat[Vol:8] , Tarikh-ul Kabir[Vol:2] , Tabaqat[Vol:7] , Siyar A'lam[11/177-358] , Tahdheeb al-Tahdheeb[Vol:1] , Tahdheeb al-Tahdheeb[Vol:12] , Taqrib al-Tahdheeb[84]
Narrations:
(Unconfirmed) Sahih Bukhari: 15 Sahih Muslim: 24 Sunan Abi Da'ud: 231 Jami' al-Tirmidhi: 2 Sunan an-Nasa'i: 6 Sunan Ibn Majah: 4
Thadeeb al-Kamal:
Names used in Hadith Literature:
أحمد, الباقون بواسطة أحمد بن حنبل, أحمد بن حنبل, أحمد بن محمد بن حنبل, أبوه أحمد بن حنبل, أحمد بن حنبل حدث عنه, أحمد بن حنبل الإمام, ابن ماجة بواسطة أحمد بن حنبل, أحمد بن محمد بن حنبل بن هلال