Sunday, September 15, 2019

AHMAD BIN HANBAL (Abu 'Abdullah) [أحمد بن حنبل]

Nama lengkap Imam Ahmad adalah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal Asy Syaibani. Beliau adalah seorang ulama hadits terkemuka, baik pada masanya ataupun sesudahnya.

Menurut riwayat yang masyhur, beliau dilahirkan di Kota Baghdad pada bulan Rabi’ul Awwal tahun 164 H (780 M), ketika masa pemerintahan Islam dipegang oleh Khalifah Muhammad al Mahdi dari Bani ‘Abbasiyyah ke III.

Nasab dan Kunyah (Julukan)
Bila diselidiki dengan cermat, nasab Imam Ahmad sama dengan Imam Asy Syafi’i, yakni bersambung dengan kakek yang menurunkan Nabi Muhammad shallaahu’alaihi wa sallam. Jika Imam Asy Syafi’i bersambung dengan kakek Nabi shallaahu’alaihi wa sallam yang ketiga, ‘Abdul Manaf. Sedangkan silsilah Imam Ahmad bersambung dengan kakek yang ke delapan belas, yakni Nizar. Jelasnya, Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal bin Asas bin Idris bin ‘Abdullah bin Hajyan bin ‘Abdullah bin Anas bin ‘Auf bin Qasith bin Mazin bin Syaiban bin Dzahal Tsa’labah bin Akabah bin Sha’ab bin ‘Ali bin Bakar bin Muhammad bin Wa`il bin Qashit bin Afshiy bin Damiy bin Jadhah bin Asad bin Rabi’ah bin Nizar bin Ma’an bin Adnan.

Berdasarkan silsilah nasab di atas -sebagaimana yang dikemukakan oleh ahli sejarah- maka nasab Imam Ahmad serumpun dengan Nabi shallaahu’alaihi wa sallam, karena yang menurunkan Nabi shallaahu’alaihi wa sallam adalah Mudhar bin Nizar.

Menurut catatan tarikh, kendati ayah beliau bernama Muhammad, namun beliau lebih dikenal dengan Ibnu Hanbal (nisbat kepada kakeknya). Setelah mempunyai beberapa putra yang diantaranya bernama ‘Abdullaah, maka beliau pun lebih sering dipanggil dengan sebutan Abu ‘Abdillah. Akan tetapi berkenaan dengan madzhabnya, maka kaum muslimin saat itu lebih menyebutnya sebagai Madzhab Hanbali, dan sama sekali tidak menisbatkan dengan kunyah tersebut.

Pertumbuhan dan Semangat Keilmuan
Sejak kecil, yang mulia Imam Ahmad kendati dalam keadaan yatim dan miskin, namun berkat bimbingan ibunya yang shalihah, beliau mampu menjadi manusia yang teramat cinta kepada ilmu, kebaikan dan kebenaran.

Dalam usianya yang masih dini yakni 16 tahun, setelah menamatkan pendidikannya di kota Baghdad, beliau berangkat ke Kufah, Bashrah, Syam, Yaman, Jazirah, Makkah dan Madinah. Perjalanan yang jauh dan cukup melelahkan ini, tidak ada bekal bagi Imam Ahmad, selain dari semangat, keprihatinan dan do’a ibunya.

Dikabarkan, demi untuk membiayai perjalanan keilmuan teresebut beliau sampai menyewakan pusaka ayahnya, yakni sebuah rumah dan baju sulam. Demikian pula dalam suatu riwayat, ketika beliau kehabisan bekal di tengah perjalanan saat menuju kota Shan’a ( Yaman), maka dengan penuh keprihatinan beliau terpaksa bekerja pada sebuah kafilah. Dan pada kesempatan lain, guna menutupi kebutuhannya beliau terpaksa menjual baju kurungnya. Hal itu beliau lakukan tiada lain demi memelihara dirinya dari meminta atau ditolong.

Sungguh pun demikian, dalam suasana yang serba kekurangan itu, tekad Imam Ahmad di dalam menuntut ilmu tidak pernah berkurang. Bahkan lebih terpuji lagi, sekalipun beliau sudah menjadi Imam dan diikuti oleh banyak kaum muslimin, pekerjaannya menuntut ilmu dan mendatangi guru-guru yang lebih ‘alim tidak pernah berhenti.

Melihat keteguhannya di dalam menuntut ilmu dan semangatnya yang tidak pernah pudar, seraya orang pun bertanya, “Sampai kapan engkau berhenti mencari ilmu, padahal engkau sekarang sudah mencapai kedudukan yang tinggi dan telah pula menjadi imam bagi kaum muslimin?” Maka beliau pun menkawabnya dengan singkat, “Beserta tinta sampai liang lahat.”

Guru-guru Imam Ahmad
Banyak sekali ilmu yang dipelajari oleh Imam Ahmad, dan beliau sangat menguasainya dalam setiap sisi. Terutama ilmu hadits, maka bidang yang satu ini hingga usia lanjut telah banyak menarik perhatiannya. Sehingga tidak saja sejuta hadits beliau hafal di luar kepala, akan tetapi sekaligus bersama mata rantai Sanad dan ihwal perawinya.

Betapapun jua, beliau dengan segenap ketekunannya memperoleh kelebihan yang langka dan jarang tandingannya ini adalah berkat guru-gurunya yang sangat terpilih, terkenal dan amat piawai dalam bidangnya. Misalnya dari kalangan Ahli Hadits adalah Yahya bin Sa’id al Qathan, Abdurrahman bin Mahdi, Yazid bin Harun, Sufyan bin Uyainah dan Abu Daud Ath Thayalisi. Sedang dari kalangan ahli fiqih adalah Waki’ bin Jarrah, Muhammad bin Idris Asy Syafi’i dan Abu Yusuf, sahabat Abu Hanifah dan lainnya.

Kemudian dalam perkembangan selanjutnya, beliau pun menjadi seorang alim yang terkemuka dan besar pengaruhnya, terkenal tekun di dalam melacak rawi-rawi hadits yang banyak diantaranya tidak lebih dari si penabur bid’ah dan kesesatan. Beliau juga terkenal gigih dan berani di dalam menangkis berbagai paham yang berusaha memalingkan umat dari agamanya.

Copyright © 2024 muslimah.or.id



Pujian Ulama kepada Imam Ahmad

Berkata Imam Al Hasan bin Ar Rabi’, “Jikalau tidak ada Imam Ahmad, niscaya banyak orang yang mengada-adakan bid’ah dalam agama.”Berkata pula Imam Ibnu Qutaibah, “Sesudah wafat Imam Ats Tsauri lenyaplah wara’ (sikap berhati-hati dalam agama), sesudah wafat Imam Asy Syafi’i lenyaplah Sunnah, dan nanti sesudah wafat Imam Ahmad, maka perbuatan bid’ah akan merajalela. Selain Ar Rabi’ dan Ibnu Qutaibah, seorang ahli hadits terkemuka dan ternama bernama Imam Ali al Madini juga berkata tentang kebesaran Imam Ahmad bin Hanbal ini, “Semoga Allah subhanallahu wa ta’ala memelihara Ahmad bin Hanbal, karena ia pada hari ini menjadi hujjah Allah subhanallahu wa ta’ala atas segenap makhluk-Nya.”

Zahid, Dermawan dan Ahli Ilmu

Meskipun seorang yang selalu menderita kekurangan namun beliau sangat memelihara kehormatan dirinya. Bahkan dalam keadaan papa tersebut beliau senantiasa berusaha menolong dan menjadikan tangannya selalu di atas. Berkata Imam Yahya bin Hilal al Warraq, “Aku pernah berkunjung kepada Imam Ahmad, kemudian beliau mengeluarkan empat dirham kepadaku, dan berkata, ‘Ini semua yang aku punya pada hari ini untukmu.”

Sedemikian dermawannya Imam Ahmad, beliau pun tidak pernah gusar hatinya untuk mendermakan sesuatu yang dimiliki satu-satunya pada hari itu. Seperti yang disaksikan oleh Imam Harun al-Mustamili, “Pada suatu tempat, aku pernah berbincang-bincang dengan Imam Ahmad, kemudian aku berkata kepadanya, hari ini aku tidak mempunyai sesuatu pun. Maka seketika itu beliau memberiku lima dirham, sambil berkata, “Aku tidak memiliki lagi sesuatu selain ini.”


Selanjutnya, di samping kearifan dan kedermawanannya yang memikat, Imam Ahmad pun terkenal seorang yang zuhud dan wara’. Bersih hatinya dari segala macam pengaruh kebendaan, serta menyibukkan diri dengan dzikir dan membaca Al Qur’an, atau pula menghabiskan seluruh usianya untuk membersihkan agama dan mengikisnya dari kotoran-kotoran bid’ah dan pikiran yang sesat. Berkata Sulaiman bin al Asy’ats, “Aku belum pernah mendengar Imam Ahmad menyebut urusan keduniaan. Dan apabila beliau merasa lapar, diambilnya pecahan-pecahan roti kering, lalu dihembuskannya supaya keluar debunya, kemudian direndam ke dalam air di dalam pinggan besar sampai basah, sesudah itu barulah dimakannya dengan garam.”

Demi memelihara kezuhudan, kehormatan dan martabat ilmunya itu, tidak sedikit Imam Ahmad menolak berbagai pemberian dari para hartawan dan bangsawan. Dan bila pun beliau menerima suatu bingkisan atau hadiah dari tetangganya, maka seketika itu pula beliau membalasnya dengan yang setimpal bahkan lebih, sebagaimana yang telah disaksikan oleh Imam al Marwazi, “Pada suatu hari Imam Ahamad menerima pemberian air zam-zam dari seorang sahabatnya, kemudian seketika itu pula beliau memberi balasan dengan gandum yang baik dan gula. Imam Ahmad, sebagaimana para pendahulunya, beliau kerap kali banyak menghadapi kesulitan dan berbagai cobaan dari para penguasa. Akan tetapi berkat kezuhudan dan sikapnya yang senantiasa menjadikan akhirat di depan matanya, maka semua itu sedikit pun tidak menghentikan beliau dari kegiatannya mengajar dan menimba ilmu, sehingga pengetahuannya pun semakin bertambah dan kian bertambah.Imam Abu Razaq berkata, “Sesungguhnya aku belum pernah melihat seseorang yang lebih pandai tentang urusan hukum agama dan lebih teliti perbuatannya selain Imam Ahmad bin Hanbal.” Imam Ibrahim al-Harbi juga berkata, “Kalau aku melihat Imam Ahmad, seolah-olah Allah subhanallahu wa ta’ala menghimpunkan kepadanya pengetahuan orang-orang dahulu dan orang-orang yang datang kemudian.”


Copyright © 2024 muslimah.or.id

**************************

Imam Ahmad Bin Hambal

Nama dan Nasab:

Kunyah beliau Abu Abdillah, namanya Ahmad bin Muhammad bin Hambal bin Hilal bin Asad Al Marwazi Al Baghdadi. Ayah beliau seorang komandan pasukan di Khurasan di bawah kendali Dinasti Abbasiyah. Kakeknya mantan Gubernur Sarkhas di masa Dinasti Bani Umayyah, dan di masa Dinasti Abbasiyah menjadi da’i yang kritis.

Kelahiran Beliau:


Beliau dilahirkan di kota Baghdad pada bulan Rabi’ul Awwal tahun 164 Hijriyah. Beliau tumbuh besar di bawah asuhan kasih sayang ibunya, karena bapaknya meninggal dunia saat beliau masih berumur belia, tiga tahun. Meski beliau anak yatim, namun ibunya dengan sabar dan ulet memperhatian pendidikannya hingga beliau menjadi anak yang sangat cinta kepada ilmu dan ulama karena itulah beliau kerap menghadiri majlis ilmu di kota kelahirannya.

Awal mula Menuntut Ilmu


Ilmu yang pertama kali dikuasai adalah Al Qur’an hingga beliau hafal pada usia 15 tahun, beliau juga mahir baca-tulis dengan sempurna hingga dikenal sebagai orang yang terindah tulisannya. Lalu beliau mulai konsentrasi belajar ilmu hadits di awal umur 15 tahun itu pula.

Keadaan fisik beliau:

Muhammad bin ‘Abbas An-Nahwi bercerita, Saya pernah melihat Imam Ahmad bin Hambal, ternyata Badan beliau tidak terlalu tinggi juga tidak terlalu pendek, wajahnya tampan, di jenggotnya masih ada yang hitam. Beliau senang berpakaian tebal, berwarna putih dan bersorban serta memakai kain.
Yang lain mengatakan, “Kulitnya berwarna coklat (sawo matang)”

Keluarga beliau:

Beliau menikah pada umur 40 tahun dan mendapatkan keberkahan yang melimpah. Beliau melahirkan dari istri-istrinya anak-anak yang shalih, yang mewarisi ilmunya, seperti Abdullah dan Shalih. Bahkan keduanya sangat banyak meriwayatkan ilmu dari bapaknya.

Kecerdasan beliau:

Putranya yang bernama Shalih mengatakan, Ayahku pernah bercerita, “Husyaim meninggal dunia saat saya berusia dua puluh tahun, kala itu saya telah hafal apa yang kudengar darinya”.

Abdullah, putranya yang lain mengatakan, Ayahku pernah menyuruhku, “Ambillah kitab mushannaf Waki’ mana saja yang kamu kehendaki, lalu tanyakanlah yang kamu mau tentang matan nanti kuberitahu sanadnya, atau sebaliknya, kamu tanya tentang sanadnya nanti kuberitahu matannya”.

Abu Zur’ah pernah ditanya, “Wahai Abu Zur’ah, siapakah yang lebih kuat hafalannya? Anda atau Imam Ahmad bin Hambal?” Beliau menjawab, “Ahmad”. Beliau masih ditanya, “Bagaimana Anda tahu?” beliau menjawab, “Saya mendapati di bagian depan kitabnya tidak tercantum nama-nama perawi, karena beliau hafal nama-nama perawi tersebut, sedangkan saya tidak mampu melakukannya”. Abu Zur’ah mengatakan, “Imam Ahmad bin Hambal hafal satu juta hadits”.

Pujian Ulama terhadap beliau:

Abu Ja’far mengatakan, “Ahmad bin Hambal manusia yang sangat pemalu, sangat mulia dan sangat baik pergaulannya serta adabnya, banyak berfikir, tidak terdengar darinya kecuali mudzakarah hadits dan menyebut orang-orang shalih dengan penuh hormat dan tenang serta dengan ungkapan yang indah. Bila berjumpa dengan manusia, maka ia sangat ceria dan menghadapkan wajahnya kepadanya. Beliau sangat rendah hati terhadap guru-gurunya serta menghormatinya”.

Imam Asy-Syafi’i berkata, “Ahmad bin Hambal imam dalam delapan hal, Imam dalam hadits, Imam dalam Fiqih, Imam dalam bahasa, Imam dalam Al Qur’an, Imam dalam kefaqiran, Imam dalam kezuhudan, Imam dalam wara’ dan Imam dalam Sunnah”.

Ibrahim Al Harbi memujinya, “Saya melihat Abu Abdillah Ahmad bin Hambal seolah Allah gabungkan padanya ilmu orang-orang terdahulu dan orang-orang belakangan dari berbagai disiplin ilmu”.

Kezuhudannya:

Beliau memakai peci yang dijahit sendiri. Dan kadang beliau keluar ke tempat kerja membawa kampak untuk bekerja dengan tangannya. Kadang juga beliau pergi ke warung membeli seikat kayu bakar dan barang lainnya lalu membawa dengan tangannya sendiri. Al Maimuni pernah berujar, “Rumah Abu Abdillah Ahmad bin Hambal sempit dan kecil”.

Tekunnya dalam ibadah

Abdullah bin Ahmad berkata, “Bapakku mengerjakan shalat dalam sehari-semalam tiga ratus raka’at, setelah beliau sakit dan tidak mampu mengerjakan shalat seperti itu, beliau mengerjakan shalat seratus lima puluh raka’at.

Wara’ dan menjaga harga diri

Abu Isma’il At-Tirmidzi mengatakan, “Datang seorang lelaki membawa uang sebanyak sepuluh ribu (dirham) untuk beliau, namun beliau menolaknya”. Ada juga yang mengatakan, “Ada seseorang memberikan lima ratus dinar kepada Imam Ahmad namun beliau tidak mau menerimanya”. Juga pernah ada yang memberi tiga ribu dinar, namun beliau juga tidak mau menerimanya.

Tawadhu’ dengan kebaikannya:

Yahya bin Ma’in berkata, “Saya tidak pernah melihat orang yang seperti Imam Ahmad bin Hambal, saya berteman dengannya selama lima puluh tahun dan tidak pernah menjumpai dia membanggakan sedikitpun kebaikan yang ada padanya kepada kami”.

Beliau (Imam Ahmad) mengatakan, “Saya ingin bersembunyi di lembah Makkah hingga saya tidak dikenal, saya diuji dengan popularitas”.
Iklan

Al Marrudzi berkata, “Saya belum pernah melihat orang fakir di suatu majlis yang lebih mulia kecuali di majlis Imam Ahmad, beliau perhatian terhadap orang fakir dan agak kurang perhatiannya terhadap ahli dunia (orang kaya), beliau bijak dan tidak tergesa-gesa terhadap orang fakir. Beliau sangat rendah hati, begitu tinggi ketenangannya dan sangat memuka kharismanya”.

Beliau pernah bermuka masam karena ada seseorang yang memujinya dengan mengatakan, “Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan atas jasamu kepada Islam?” beliau mengatakan, “Jangan begitu tetapi katakanlah, semoga Allah membalas kebaikan terhadap Islam atas jasanya kepadaku, siapa saya dan apa (jasa) saya?!”

Sabar dalam menuntut ilmu

Tatkala beliau pulang dari tempat Abdurrazzaq yang berada di Yaman, ada seseorang yang melihatnya di Makkah dalam keadaan sangat letih dan capai. Lalu ia mengajak bicara, maka Imam Ahmad mengatakan, “Ini lebih ringan dibandingkan faidah yang saya dapatkan dari Abdirrazzak”.

Hati-hati dalam berfatwa:

Zakariya bin Yahya pernah bertanya kepada beliau, “Berapa hadits yang harus dikuasai oleh seseorang hingga bisa menjadi mufti? Apakah cukup seratus ribu hadits? Beliau menjawab, “Tidak cukup”. Hingga akhirnya ia berkata, “Apakah cukup lima ratus ribu hadits?” beliau menjawab. “Saya harap demikian”.

Kelurusan aqidahnya sebagai standar kebenaran

Ahmad bin Ibrahim Ad-Dauruqi mengatakan, “Siapa saja yang kamu ketahui mencela Imam Ahmad maka ragukanlah agamanya”. Sufyan bin Waki’ juga berkata, “Ahmad di sisi kami adalah cobaan, barangsiapa mencela beliau maka dia adalah orang fasik”.

Masa Fitnah:

Pemahaman Jahmiyyah belum berani terang-terangan pada masa khilafah Al Mahdi, Ar-Rasyid dan Al Amin, bahkan Ar-Rasyid pernah mengancam akan membunuh Bisyr bin Ghiyats Al Marisi yang mengatakan bahwa Al Qur’an adalah makhluq. Namun dia terus bersembunyi di masa khilafah Ar-Rasyid, baru setelah beliau wafat, dia menampakkan kebid’ahannya dan menyeru manusia kepada kesesatan ini.

Di masa khilafah Al Ma’mun, orang-orang jahmiyyah berhasil menjadikan paham jahmiyyah sebagai ajaran resmi negara, di antara ajarannya adalah menyatakan bahwa Al Qur’an makhluk. Lalu penguasa pun memaksa seluruh rakyatnya untuk mengatakan bahwa Al Qur’an makhluk, terutama para ulamanya.

Barangsiapa mau menuruti dan tunduk kepada ajaran ini, maka dia selamat dari siksaan dan penderitaan. Bagi yang menolak dan bersikukuh dengan mengatakan bahwa Al Qur’an Kalamullah bukan makhluk maka dia akan mencicipi cambukan dan pukulan serta kurungan penjara.

Karena beratnya siksaan dan parahnya penderitaan banyak ulama yang tidak kuat menahannya yang akhirnya mengucapkan apa yang dituntut oleh penguasa zhalim meski cuma dalam lisan saja. Banyak yang membisiki Imam Ahmad bin Hambal untuk menyembunyikan keyakinannya agar selamat dari segala siksaan dan penderitaan, namun beliau menjawab, “Bagaimana kalian menyikapi hadits “Sesungguhnya orang-orang sebelum Khabbab, yaitu sabda Nabi Muhammad ada yang digergaji kepalanyarkalian namun tidak membuatnya berpaling dari agamanya”. HR. Bukhari 12/281. lalu beliau menegaskan, “Saya tidak peduli dengan kurungan penjara, penjara dan rumahku sama saja”.

Ketegaran dan ketabahan beliau dalam menghadapi cobaan yang menderanya digambarkan oleh Ishaq bin Ibrahim, “Saya belum pernah melihat seorang yang masuk ke penguasa lebih tegar dari Imam Ahmad bin Hambal, kami saat itu di mata penguasa hanya seperti lalat”.
Iklan

Di saat menghadapi terpaan fitnah yang sangat dahsyat dan deraan siksaan yang luar biasa, beliau masih berpikir jernih dan tidak emosi, tetap mengambil pelajaran meski datang dari orang yang lebih rendah ilmunya. Beliau mengatakan, “Semenjak terjadinya fitnah saya belum pernah mendengar suatu kalimat yang lebih mengesankan dari kalimat yang diucapkan oleh seorang Arab Badui kepadaku, “Wahai Ahmad, jika anda terbunuh karena kebenaran maka anda mati syahid, dan jika anda selamat maka anda hidup mulia”. Maka hatiku bertambah kuat”.

Ahli hadits sekaligus juga Ahli Fiqih

Ibnu ‘Aqil berkata, “Saya pernah mendengar hal yang sangat aneh dari orang-orang bodoh yang mengatakan, “Ahmad bukan ahli fiqih, tetapi hanya ahli hadits saja. Ini adalah puncaknya kebodohan, karena Imam Ahmad memiliki pendapat-pendapat yang didasarkan pada hadits yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia, bahkan beliau lebih unggul dari seniornya”.

Bahkan Imam Adz-Dzahabi berkata, “Demi Allah, beliau dalam fiqih sampai derajat Laits, Malik dan Asy-Syafi’i serta Abu Yusuf. Dalam zuhud dan wara’ beliau menyamai Fudhail dan Ibrahim bin Adham, dalam hafalan beliau setara dengan Syu’bah, Yahya Al Qaththan dan Ibnul Madini. Tetapi orang bodoh tidak mengetahui kadar dirinya, bagaimana mungkin dia mengetahui kadar orang lain!!

Guru-guru Beliau

Imam Ahmad bin Hambal berguru kepada banyak ulama, jumlahnya lebih dari dua ratus delapan puluh yang tersebar di berbagai negeri, seperti di Makkah, Kufah, Bashrah, Baghdad, Yaman dan negeri lainnya. Di antara mereka adalah:

1. Ismail bin Ja’far
2. Abbad bin Abbad Al-Ataky
3. Umari bin Abdillah bin Khalid
4. Husyaim bin Basyir bin Qasim bin Dinar As-Sulami
5. Imam Asy-Syafi’i.
6. Waki’ bin Jarrah.
7. Ismail bin Ulayyah.
8. Sufyan bin ‘Uyainah
9. Abdurrazaq
10. Ibrahim bin Ma’qil.

Murid-murid Beliau:

Umumnya ahli hadits pernah belajar kepada imam Ahmad bin Hambal, dan belajar kepadanya juga ulama yang pernah menjadi gurunya, yang paling menonjol adalah:

1. Imam Bukhari.
2. Muslim
3. Abu Daud
4. Nasai
5. Tirmidzi
6. Ibnu Majah
7. Imam Asy-Syafi’i. Imam Ahmad juga pernah berguru kepadanya.
8. Putranya, Shalih bin Imam Ahmad bin Hambal
9. Putranya, Abdullah bin Imam Ahmad bin Hambal
10. Keponakannya, Hambal bin Ishaq
11. dan lain-lainnya.

Wafat beliau:

Setelah sakit sembilan hari, beliau Rahimahullah menghembuskan nafas terakhirnya di pagi hari Jum’at bertepatan dengan tanggal dua belas Rabi’ul Awwal 241 H pada umur 77 tahun. Jenazah beliau dihadiri delapan ratus ribu pelayat lelaki dan enam puluh ribu pelayat perempuan.

Karya beliau sangat banyak, di antaranya:

1. Kitab Al Musnad, karya yang paling menakjubkan karena kitab ini memuat lebih dari dua puluh tujuh ribu hadits.
2. Kitab At-Tafsir, namun Adz-Dzahabi mengatakan, “Kitab ini hilang”.
3. Kitab Az-Zuhud
4. Kitab Fadhail Ahlil Bait
5. Kitab Jawabatul Qur’an
6. Kitab Al Imaan
7. Kitab Ar-Radd ‘alal Jahmiyyah
8. Kitab Al Asyribah
9. Kitab Al Faraidh

Terlalu sempit lembaran kertas untuk menampung indahnya kehidupan sang Imam. Sungguh sangat terbatas ungkapan dan uraian untuk bisa memaparkan kilauan cahaya yang memancar dari kemulian jiwanya. Perjalanan hidup orang yang meneladai panutan manusia dengan sempurna, cukuplah itu sebagai cermin bagi kita, yang sering membanggakannya namun jauh darinya.

Dikumpulkan dan diterjemahkan dari kitab Siyar A’lamun Nubala
Karya Al Imam Adz-Dzahabi Rahimahullah
Sumber: Majalah As Salam

*****************************************************************

Scholar: Ahmad bin Hanbal [Abu 'Abdullah] 
3rd Century AH [10th generation] [Hanbali]

Full Name: Ahmed bin Muhammad b. Hanbal b. Hilaal b. As’ad b. Idrees b. 'Abdullah b. Hayyaan b. 'Abdullah

Parents: Muhammad Ibn Hanbal / Saffiyah bint Maimoonah bint 'Abdul Malik
Birth Date/Place: 164 AH/780 CE (Basra)
Death Date/Place: 241 AH/855 CE (Baghdad)[ Natural ]
Places of Stay: Baghdad/Syria/Hijaz
Area of Interest: Fiqh, Hadith, Narrator[Grade:Thiqah Thiqah] [ ع - ثقة حافظ ], Tafsir/Quran, Aqeedah
Spouse(s): Umm Abi 'Abbash, Raihanah, Husn(Slave)
Students/Narrated By: al-Bukhari, Imam Muslim, Abu Da'ud, الباقون مع البخاري أيضا بواسطة, al-'Aswad bin 'Amir Shadhan, 'Abdur Rahman bin Mahdi, Imam Shafi'ee, Hisham bin 'Abdul Malik al-Tayalasi, 'Abdur-Razzaq, Waki' bin al-Jarrah, Yahya bin Aadm bin Sulaiman, Yazid bin Harun, (His Shaikh), Qutayba bin Sa'id bin Jamil, Da'ud bin 'Amr bin Zuhayr, Khlf bin Hisham bin Th'lb, (older than him), Ahmed bin Abi al-Hawari, Yahya bin Ma'in, 'Ali bin al-Madini, al-Husain bin Mnswr bin Ja'far, Ziyad bin Ayoub - Dulwiyya, 'Abdur Rahman bin Ibrahim, 'Ubaidullah bin Sa'id, Muhammad bin Rafa'i, Muhammad bin Yahya bin Abi Samina, (From peers), 'Abdullah bin Ahmed bin Hanbal, تلامذته أبو بكر الأثرم, حرب الكرماني, بقي بن مخلد, حنبل بن إسحاق, شاهين بن السميدع, Muhammad bin Ziyad al-Yshkry

Brief Biography:

Student of Imam Shafi'i, Scholar of Fiqh (Jurisprudence). From the foremost of his students are: his two sons, Salih and Abdullah, Hanbal ibn Ishaq, al-Marrudhi, al-Kawsaj, Ibn Hani, Abu Dawud (compiler of Sunan Abi Dawud), al-Athram, Abu Zur’ah al-Razi, Abu Hatim al-Razi, ‘Abdul-Wahhab al-Warraq, al-Tirmidhi and many others.
He studied the Hadeeth and Fiqh together with other Islaamic disciplines in Baghdad, then travelled to Ash-Sham and Hijaz for further studies. He was persecuted during the rule of Al-Ma'mun bin Harun Ar-Rashid for refusing to acknowledge the Bid'aa (innovation) of claiming that the Qur'aan was the creation of Allaah, introduced by the Mu' tazila. He however, stood firm against all the trials and saved the Sunnah from the innovation of the wretched Mu 'tazila thoughts. He was the mostly persecuted and most firm one amongst all the Imam. He is most famous for collecting the Hadeeth of the Prophet compiled in the Musnad Ahmad bin Hanbal, which contain 28 to 29 thousand Hadeeth. It was said that Ibn Hanbal memorized one million Hadeeth. Ibn Hanbal died in Baghdad on Friday, 12 Rabi '-ul-Awwal 241 H. The Creed of the Ahlus-Sunnahh is that the Qur'aan is the Kalaam or Word of Allaah.

References: 10[pg:12] View
Thiqat[Vol:8] , Tarikh-ul Kabir[Vol:2] , Tabaqat[Vol:7] , Siyar A'lam[11/177-358] , Tahdheeb al-Tahdheeb[Vol:1] , Tahdheeb al-Tahdheeb[Vol:12] , Taqrib al-Tahdheeb[84]

Narrations:
(Unconfirmed) Sahih Bukhari: 15 Sahih Muslim: 24 Sunan Abi Da'ud: 231 Jami' al-Tirmidhi: 2 Sunan an-Nasa'i: 6 Sunan Ibn Majah: 4



Thadeeb al-Kamal:

Names used in Hadith Literature:

أحمد, الباقون بواسطة أحمد بن حنبل, أحمد بن حنبل, أحمد بن محمد بن حنبل, أبوه أحمد بن حنبل, أحمد بن حنبل حدث عنه, أحمد بن حنبل الإمام, ابن ماجة بواسطة أحمد بن حنبل, أحمد بن محمد بن حنبل بن هلال

Sunday, September 23, 2018

UTSMAN BIN 'ASIM BIN HUSSAIN [عثمان بن عاصم بن حصين أبو حصين]

Nama : Utsman bin 'Ashim bin Hushain
Kalangan : Tabi'in kalangan biasa
Nasab : Al Asadiy
Kuniyah : Abu Al Hashin
Laqob :
Negeri semasa hidup : Kufah
Wafat : tahun 128 H

Komentar Ulama :

Adz Dzahabi : tsiqah tsabat
Yahya bin Ma'in : Tsiqah
Abu Hatim : tsiqah
An Nasa'i : Tsiqah
Ibnu Hibban : disebutkan dalam 'ats tsiqaat
Ibnu Hajar : tsiqah tsabat


***********************************

'Uthman bin 'Asim bin Husayn 
عثمان بن عاصم بن حصين أبو حصين

Scholar: 11371 - 'Uthman bin 'Asim bin Husayn [Abu Husayn] 
Follower(Tabi') [4th generation]

Full Name: 'Uthman bin 'Asim bin Husayn
Death Date/Place: after 127 AH ()[ Natural ]
Places of Stay: al-Kufa
Area of Interest: Narrator[Grade:Thiqah] [ ع - ثقة ثبت ]

Teachers/

Students/

Tags : B.Asad, al-Kufi


Brief Biography:

Last Updated: 2010-08-11

References: 27[pg:384] View
Thiqat[Vol:7] , Tabaqat[Vol:6] , Siyar A'lam[5/412-417] , Tahdheeb al-Tahdheeb[Vol:7] , Tahdheeb al-Tahdheeb[Vol:12] , Taqrib al-Tahdheeb[384] , Taqrib al-Tahdheeb[633]

Narrations:
(Unconfirmed) Sahih Bukhari: 28 Sahih Muslim: 7 Sunan Abi Da'ud: 7 Jami' al-Tirmidhi: 10 Sunan an-Nasa'i: 14 Sunan Ibn Majah: 8

Thadeeb al-Kamal:

Names used in Hadith Literature:
عثمان بن عاصم أبو حصين, أبو حصين الأسدي, أبو حصين, أبو حصين بن عثمان, أبي حصين, أبو حصين بن عاصم الأسدي, أبو حصين عثمان بن عاصم الأسدي, أبي حصين عثمان بن عاصم الأسدي, أبي حصين الأسدي, أبي حصين عثمان بن عاصم

ABU BAKAR BIN 'AYYASY BIN SALIM [أبو بكر بن عياش بن سالم الأسدي]

[أبو بكر بن عياش بن سالم الأسدي]


Nama : Abu Bakar bin 'Ayyasy bin Salim
Kalangan : Tabi'ut Tabi'in kalangan tua
Nasab : Al Asadiy
Kuniyah : Abu Bakar
Laqob : Al Muqri'i
Negeri semasa hidup : Kufah
Wafat : tahun 193 H

Komentar Ulama :

Ibnu Hajar al 'Asqalani : maqbuul Faadil 


*********

Abu Bakr bin 'Ayyash al-Asadi 
أبو بكر بن عياش بن سالم الأسدي

Scholar: 20373 - Abu Bakr bin 'Ayyash al-Asadi [Abu Bakr] 
Succ. (Taba' Tabi') [7th generation]

Full Name: Muhammad/'Abdullah/Salm/Shu'ba bin 'Ayyash bin Salm al-Asadi
Parents: 'Ayyash bin Salm al-Asadi
Birth Date/Place: 95 AH ()
Death Date/Place: ~193 AH (Kufa)[ Natural ]
Places of Stay: al-Kufa
Area of Interest: Narrator[Grade:Thiqah] [ ع - ثقة ]

Teachers/

Students/



Brief Biography:

Last Updated: 2010-07-07
References: 27[pg:624] View
Thiqat[Vol:7] , Tabaqat[Vol:6] , Siyar A'lam[8/495-508] , Tahdheeb al-Tahdheeb[Vol:12] , Mezan al-A'tadal[Vol:4] , Taqrib al-Tahdheeb[624]

Narrations:
(Unconfirmed) Sahih Bukhari: 5 Sahih Muslim: 1 Sunan Abi Da'ud: 7 Jami' al-Tirmidhi: 34 Sunan an-Nasa'i: 13 Sunan Ibn Majah: 36

Names used in Hadith Literature:
أبو بكر بن عياش, أبكر بن عياش, أبي بكر بن عياش, بكر بن عياش, أبي بكر بن عياش والداروردي

Sunday, September 16, 2018

YAHYA BIN YUSUF BIN ABI KARIMAH [يحيى بن يوسف]



Nama : Yahya bin Yusuf bin Abi Karimah
Kalangan : Tabi'ul Atba' kalangan tua
Nasab : Az Zimmiy Al Khurasaniy
Kuniyah : Abu Yusuf
Laqob :
Negeri semasa hidup : Baghdad
Wafat : tahun 225 H


Komentar Ulama :
Abu Hatim : Shaduuq
Abu Zur'ah : Tsiqah
Ibnu Qani' : Tsiqah
Ibnu Hajar al 'Asqalani :Tsiqah

***********************

Yahya bin Yusuf 
يحيى بن يوسف

Scholar: 30282 - Yahya bin Yusuf 
3rd Century AH [10th generation]

Full Name: Yahya bin Yusuf
Death Date/Place: > 220 AH ()[ Natural ]
Places of Stay: Khurasan,Baghdad
Area of Interest: Narrator[Grade:Thiqah] [ خ ق - ثقة ]

Teachers/

Students/
Narrated By: al-Bukhari



Brief Biography:

الخراساني,بغداد * * مات سنة بضع وعشرين *

Last Updated: 2010-06-14

References: 27[pg:599] View
Thiqat[Vol:9] , Tabaqat[Vol:7] , Siyar A'lam[11/38-39] , Lisan al-Mizan[Vol:6] , Tahdheeb al-Tahdheeb[Vol:11] , Taqrib al-Tahdheeb[599]

Narrations:
(Unconfirmed) Sahih Bukhari: 4 Sunan Ibn Majah: 1

Thadeeb al-Kamal:

Names used in Hadith Literature:
يحيى بن يوسف الزمي, يحيى بن يوسف

Monday, July 9, 2018

THABIT BIN ASLAM [ثابت بن أسلم البناني]

Nama : Tsabit bin Aslam
Kalangan : Tabi'in kalangan biasa
Nasab :
Kuniyah : Abu Muhammad
Laqob :
Negeri semasa hidup : Bashrah
Wafat : tahun 127 H

Ulama Komentar : 

An Nasa'i : Tsiqah
Ibnu 'Adi : tsiqah ma`mun
Ibnu Hibban : disebutkan dalam 'ats tsiqaat
Ibnu Hajar al 'Asqalani : Tsiqah abid

********************

Thabit bin Aslam Albanani 
ثابت بن أسلم البناني

Scholar: 11269 - Thabit bin Aslam Albanani [Abu Muhammad] 
Follower(Tabi') [4th generation]

Full Name: Thabit bin Aslam Albanani
Death Date/Place: > 120 AH ()[ Natural ]
Places of Stay: al-Basra
Area of Interest: Narrator[Grade:Thiqah Thiqah] [ ع - ثقة ]

Teachers/
Narrated From: Anas bin Malik, 'Abdullah ibn al-Zubayr, ibn Umar, 'Abdullah bin Mughfal al-Mazni, 'Umar bin Abi Salamah, شعيب والد عمرو, ابنه عمرو, هو أكبر منه عبد الله بن رباح الأنصاري, 'Abdur Rahman bin Abi Layla, Matraf bin 'Abdullah bin al-Shakhayr, Abu Rafi' al-Sa'agh, Several

Students/

Tags : al-Basri


Brief Biography:

Last Updated: 2010-11-16

References: 27[pg:132] View
Thiqat[Vol:4] , Tabaqat[Vol:7] , Siyar A'lam[5/220-225] , Lisan al-Mizan[Vol:7] , Tahdheeb al-Tahdheeb[Vol:2] , Taqrib al-Tahdheeb[132]

Narrations:
(Unconfirmed) Sahih Bukhari: 67 Sahih Muslim: 151 Sunan Abi Da'ud: 83 Jami' al-Tirmidhi: 72 Sunan an-Nasa'i: 56 Sunan Ibn Majah: 43

Thadeeb al-Kamal:

Names used in Hadith Literature:
ثابت البناني, ثابتا البناني, ثابت

Thiqat Ibn Hibban - ثقات ابن حبان [Follower (Tabi'), Id:1960. - pg:Vol:4]
ثابت بن أسلم البناني البصري أبو محمد يروى عن بن عمر وابن الزبير وصحب أنسا أربعين سنة وكان من أعبد أهل البصرة وبنانة الذي نسب إليه وهو بنانة بن سعد بن لؤي بن غالب روى عنه الناس مات سنة سبع وعشرين ومائة وهو بن ست وثمانين سنة وقد قيل إنه مات سنة ثلاث وعشرين ومائة ويقال سنة ست وعشرين ومائة

Tabaqat Ibn Sa'd - الطبقات الكبرى ابن سعد [ Successor (Level 3), Id:5313. - pg:Vol:7]
ثابت بن أسلم البناني من أنفسهم وبنانة إلى قريش ويكنى أبا محمد أخبرنا عفان بن مسلم قال حدثنا حماد بن زيد قال سمعت أبي يحدث قال قال أنس ولم يقل شهدته إن لكل شيء مفتاحا وإن ثابتا من مفاتيح الخير أخبرنا عفان بن مسلم قال حدثنا حماد بن سلمة قال أخبرني حميد قال كنا نأتي أنسا ومعنا ثابت قال فكان ثابت كلما مر بمسجد دخل فصلى فيه قال فكنا نأتي أنسا فيقول أين ثابت إن ثابتا دويبة أحبها أخبرنا عفان بن مسلم قال حدثنا حماد بن سلمة قال أخبرنا ثابت قال دخلنا على أنس فقال والله لأنتم أحب إلي من عدتكم من ولد أنس إلا من كان على مثل ما أنتم عليه أخبرنا عمرو بن عاصم قال حدثنا سليمان بن المغيرة قال قال ثابت لأن أصيب ذنبا وإن كان كبيرا فأستغفر الله منه حتى أقلع عنه أحب إلي من أن أصيب ذنبا صغيرا لا أستغفر الله منه حتى أقلع عنه أخبرنا عمرو بن عاصم قال حدثنا سليمان بن المغيرة قال سمعت ثابتا يقول لا يكون العابد عابدا وإن كان فيه خصلة كل خير حتى يكون فيه هاتان الخصلتان الصلاة والصوم قال يقول ثابت لأنهما والله من لحمه ودمه أخبرنا عمرو بن عاصم قال حدثنا سليمان بن المغيرة قال سمعت ثابتا يقول والله للعبادة أشد من نقل الكارات أخبرنا عفان بن مسلم قال حدثنا حماد بن سلمة قال كان ثابت وحميد يغتسلان تلك الليلة ويتطيبان ويحبان أن يطيبا المسجد بالنضوح الليلة التي يرجى فيها ليلة القدر أخبرنا عفان بن مسلم قال حدثنا حماد بن سلمة أن ثابتا كان يقرأها ويلك أكفرت بالذي خلقك من تراب ثم من نطفة وهو يصلي صلاة الليل ينتحب ويرددها أخبرنا عفان بن مسلم قال حدثنا حماد بن سلمة عن ثابت قال كان يقال ما أكثر أحد ذكر الموت إلا رئي ذلك في عمله أخبرنا عارم بن الفضل قال حدثنا حماد بن زيد قال سمعت ثابتا يقول لولا أن تصنعوا بي ما صنعتم بالحسن لحدثتكم أحاديث مؤنقة ثم قال منعوه القائلة منعوه النوم أخبرنا عمرو بن عاصم قال حدثنا سليمان بن المغيرة قال رأيت ثابتا البناني يلبس الثياب اليمنة والطيالسة والعمائم أخبرنا عفان بن مسلم قال حدثنا حماد بن سلمة عن ثابت قال إن كنت أعطيت أحدا الصلاة في قبره فأعطني الصلاة في قبري أخبرنا عارم بن الفضل قال حدثنا حماد بن زيد عن حميد قال قال لي ثابت البناني اغسلني ولا تسلخن جلدي قال وكان ثابت ثقة في الحديث مأمونا وتوفي في ولاية خالد بن عبد الله على العراق

Siyar A'lam al-Dhahbi - سير أعلام النبلاء - الذهبي [ Successor level 3, Id:1091. - pg:5/220-225]
ثابت بن أسلم
الإمام القدوة شيخ الإسلام أبو محمد البناني مولاهم البصري وبنانة هم بنو سعد بن لؤي بن غالب ويقال هم بنو سعد بن ضبيعة بن نزار
ولد في خلافة معاوية وحدث عن عبد الله بن عمر وذلك في مسلم وعبد الله بن مغفل المزني وذلك في سنن النسائي وعن عبد الله بن الزبير وذلك في البخاري وأبي برزة الأسلمي وعمر بن أبي سلمة المخزومي ربيب النبي صلى الله عليه وسلم وذلك في الترمذي والنسائي وأنس بن مالك ومطرف بن عبد الله وأبي رافع الصائغ وأبي بردة الأشعري وصفوان بن محرز وأبي عثمان النهدي والجارود بن أبي سبرة وشعيب بن محمد وولده عمرو ابن شعيب وعبد الله بن رباح الأنصاري وكنانة بن نعيم وأبي أيوب المراغي وأبي ظبية الكلاعي وأبي العالية وحبيب بن أبي ضبيعة الضبعي وعبد الرحمن بن عباس القرشي وواقع بن سحبان ومعاوية بن قرة وشهر بن حوشب وبكر بن عبد الله المزني وخلق سواهم
وكان من أئمة العلم والعمل رحمة الله عليه
حدث عنه عطاء بن أبي رباح مع تقدمه وقتادة وابن جدعان ويونس ابن عبيد وحبيب بن الشهيد وحميد الطويل وسليمان التيمي وسيار أبو الحكم وعبد الله بن عبيد بن عمير الليثي وعبد الله بن المثنى وأشعث بن براز وداود بن أبي هند وعبيد الله بن عمر ويزيد بن أبي زياد وابن شوذب ومعمر وشعبة وجرير بن حازم وسليمان بن المغيرة وسلام بن مسكين وحاتم بن ميمون والحكم بن عطية وحماد بن سلمة وحماد بن يحيى الأبح وبكر بن خنيس وبكر بن الحكم أبو البشر المزلق وبحر بن كنيز وحماد بن زيد وديلم بن غزوان وسعيد بن زربى وسهيل بن أبي حزم وأبو المنذر سلام بن سليمان القاري والضحاك بن نبراس وعبد الله بن الزبير الباهلي وعبد العزيز بن المختار ومبارك بن فضالة ومرحوم بن عبد العزيز العطار وهارون بن موسى النحوي وأبو عوانة الوضاح وعمارة بن زاذان وابنه محمد بن ثابت وجعفر بن سليمان الضبعي وخلق كثير
قال أبو طالب سألت أحمد بن حنبل عن ثابت وقتادة فقال ثابت تثبت في الحديث وكان يقص وقتادة كان يقص وكان أذكر وكان محدثامن الثقات المأمونين صحيح الحديث
وقال أحمد العجلي ثقة رجل صالح وقال النسائي ثقة وقال أبو حاتم الرازي أثبت أصحاب انس بن مالك الزهري ثم ثابت ثم قتادة
وقال ابن عدي هو من تابعي أهل البصرة وزهادهم ومحدثيهم كتب عنه الأئمة وأروى الناس عنه حماد بن سلمة وأحاديثه مستقيمة إذا روى عنه ثقة وما وقع في حديثه من النكرة إنما هو من الراوي عنه فقد روى عنه جماعة مجهولون ضعفاء
قال علي بن المديني حدثني عبد الرحمن أبو بهز عن حماد بن سلمة قال كنت أسمع أن القصاص لا يحفظون الحديث فكنت أقلب الأحاديث على ثابت أجعل أنسا لابن أبي ليلى وبالعكس أشوشها عليه فيجيء بها على الاستواء
حماد بن زيد عن أبيه قال قال أنس إن للخير أهلا وإن ثابتا هذا من مفاتيح الخير
عفان عن حماد بن سلمة قال كان ثابت يقول اللهم إن كنت أعطيت أحدا الصلاة في قبره فأعطني الصلاة في قبري فيقال إن هذه الدعوة استجيبت له وإنه رئي بعد موته يصلي في قبره فيما قيل
قال علي بن الحسين بن واقد عن أبيه عن ثابت حدثني عبد الله بن مغفل شأن الحديبية وصحبت أنس بن مالك أربعين سنة ما رأيت أعبد منه
وقيل بنانة هي والدة سعد بن لؤي بن غالب
واختلفوا في وفاة ثابت فعن جعفر بن سليمان مما رواه البخاري في تاريخه الأوسط عن محمد بن محبوب عن شيخ له عنه قال مات ثابتومالك بن دينار ومحمد بن واسع سنة ثلاث وعشرين ومئة
وقال سعيد بن عامر عن الثلاثة ماتوا في سنة واحدة قبل الطاعون أراه بسنتين
وقال البخاري حدثنا احمد بن سليمان سمعت ابن علية قال مات ثابت سنة سبع وعشرين ومئة ومات ابن جدعان بعده
وعن محمد بن ثابت قال مات ثابت سنة سبع وعشرين ومئة وهو ابن ست وثمانين سنة
أخبرنا أحمد بن إسحاق أنبأنا الفتح بن عبد الله أنبأنا هبة الله بن الحسين أنبأنا أبو الحسين بن النقور حدثنا عيسى بن الجراح حدثنا أبو القاسم عبد الله بن محمد إملاء حدثنا هدبة بن خالد حدثنا سهيل بن أبي حزم عن ثابت عن أنس أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال في هذه الآية ^ هو أهل التقوى وأهل المغفرة ^ قال ربكم عز وجل أنا أهل أن أتقى فلا يشرك بي غيري وأنا أهل لمن اتقى ان يشرك بي أن أغفر له
هذا حديث حسن غريب أخرجه الترمذي والنسائي وابن ماجه ثلاثتهم من طريق زيد بن الحباب عن سهيل القطعي فوقع لنا بعلو درجتين
أخبرنا إسحاق الأسدي أنبأنا ابن خليل أنبأنا اللبان أنبأنا الحداد أنبأنا أبو نعيم حدثنا ابن مالك حدثنا عبد الله بن أحمد القواريري حدثناحماد بن زيد أخبرني أبي قال قال أنس بن مالك يوما إن للخير مفاتيح وإن ثابتا من مفاتيح الخير
وقال غالب القطان عن بكر المزني من أراد أن ينظر إلى أعبد أهل زمانه فلينظر إلى ثابت البناني فما أدركنا الذي هو أعبد منه ومن أراد أن ينظر إلى أحفظ أهل زمانه فلينظر إلى قتادة
وعن ابن أبي رزين أن ثابتا قال كابدت الصلاة عشرين سنة وتنعمت بها عشرين سنة
روح حدثنا شعبة قال كان ثابت البناني يقرأ القرآن في كل يوم وليلة ويصوم الدهر
وقال حماد بن زيد رأيت ثابتا يبكي حتى تختلف أضلاعه
وقال جعفر بن سليمان بكى ثابت حتى كادت عينه تذهب فنهاه الكحال عن البكاء فقال فما خيرهم إذا لم يبكيا وأبى أن يعالجوقال حماد بن سلمة قرأ ثابت ^ أكفرت بالذي خلقك من تراب ثم من نطفة ثم سواك رجلا ^ ( الكهف 37 ) وهو يصلي صلاة الليل ينتحب ويرددها
وقال سليمان بن المغيرة رأيت ثابتا يلبس الثياب الثمينة والطيالس والعمائم
وقال مبارك بن فضالة دخلت على ثابت فقال يا إخوتاه لم أقدر ان أصلي البارحة كما كنت أصلي ولم أقدر أن أصوم ولا أنزل إلى أصحابي فأذكر معهم اللهم إذ حبستني عن ذلك فلا تدعني في الدنيا ساعة

Lisan al-Mizan Ibn Hajr - لسان الميزان [ Hadith Narrator, Id:11868. - pg:Vol:7]
ثابت بن أسلم البناني أبو محمد البصري ثقة كبير القدر

Tahdheeb al-Tahdheeb Ibn Hajr - تهذيب التهذيب - ابن حجر [ Hadith Narrator, Id:1002. - pg:Vol:2]
ثابت بن أسلم البناني أبو محمد البصري روى عن أنس وابن الزبير وابن عمر وعبد الله بن مغفل وعمر بن أبي سلمة وشعيب والد عمرو وابنه عمرو وهو أكبر منه عبد الله بن رباح الأنصاري وعبد الرحمن بن أبي ليلى ومطرف بن عبد الله بن الشخير وأبي رافع الصائغ وخلق وعنه حميد الطويل وشعبة وجرير بن حازم والحمادان ومعمر وهمام وأبو عوانة وجعفر بن سليمان وسليمان بن المغيرة وداود بن أبي هند والأعمش وعيسى بن طهمان وقريش بن حبان وعبد الله بن المثني وجماعة وروى عنه أقرانه عطاء بن أبي رباح وعبد الله بن عبيد بن عمير وقتادة وسليمان التيمي وغيرهم وآخرهم من روى عنه عمارة بن زاذان أحد الضعفاء قال البخاري عن بن المديني له نحو مائتين وخمسين حديثا وقال أبو طالب عن أحمد ثابت يتثبت في الحديث وكان يقص وقتادة كان يقص وكان أذكر وقال العجلي ثقة رجل صالح وقال النسائي ثقة وقال أبو حاتم أثبت أصحاب أنس الزهري ثم ثابت ثم قتادة وقال بن عدي أروى الناس عن حماد بن سلمة وأحاديثه مستقيمة إذا روى عنه ثقة وما وقع في حديثه من النكرة إنما هو من الراوي عنه وقال حماد بن سلمة كنت أسمع أن القصاص لا يحفظون الحديث فكنت أقلب علي ثابت الأحاديث اجعل أنسا لابن أبي ليلى واجعل بن أبي ليلى لأنس أشوشها عليه فيجيء بها علي الإستواء قال بن علية مات ثابت سنة 127 وقال جعفر بن سليمان سنة 23 حكاهما البخاري في الأوسط وحكي عن ثابت قال صحبت أنسا أربعين سنة قلت قال شعبة كان ثابت يقرأ القرآن في كل يوم وليلة ويصوم الدهر وقال بكر المزني ما أدركنا أعبد منه وقال بن حبان في الثقات كان من أعبد أهل البصرة وقال بن سعد كان ثقة مأمونا توفي في ولاية خالد القسري وفي سؤالات أبي جعفر محمد بن الحسين البغدادي لأحمد بن حنبل سئل أبو عبد الله عن ثابت وحميد أيهما أثبت في أنس فقال قال يحيى القطان ثابت اختلط وحميد أثبت في أنس منه وفي الكامل لابن عدي عن القطان عجب لأيوب يدع ثابتا البناني لا يكتب عنه وقال أبو بكر البرديجي ثابت عن أنس صحيح عن من حديث شعبة والحمادين وسليمان بن المغيرة فهؤلاء ثقات ما لم يكن الحديث مضطربا وفي المراسيل لابن أبي حاتم ثابت عن أبي هريرة قال أبو زرعة مرسل >> ع الستة

Taqrib al-Tahdheeb Ibn Hajr - تقريب التهذيب - ابن حجر العسقلاني [ Hadith Narrator, Id:810. - pg:132]
ثابت بن أسلم البناني بضم الموحدة ونونين [ مخففين ] أبو محمد البصري ثقة عابد من الرابعة مات سنة بضع وعشرين وله ست وثمانون ع

ADAM BIN ABU IYAS [آدم بن أبي إياس]



Nama : Adam bin Abu Iyas
Kalangan : Tabi'ut Tabi'in kalangan biasa
Nasab : Al 'Asqalaniy Al Khirasaniy
Kuniyah : Abu Al Hasan
Laqob :
Negeri semasa hidup : Baghdad
Wafat : Abdasa tahun 220 H


Ulama Komentar :


Abu Daud : Tsiqah
An Nasa'i : la ba`sa bih
Abu Hatim : "tsiqah terpercaya ahli ibadah, termasuk hamba-hamba Allah yang terbaik"
Ibnu Hajar al 'Asqalani : tsiqah ahli ibadah
Al 'Ajli : Tsiqah
Ibnu Hibban : Tsiqah





Aadm bin Abi Iyas 
آدم بن أبي إياس

Scholar: 20404 - Aadm bin Abi Iyas [Abu al-Hasan] 
Succ. (Taba' Tabi') [9th generation]

Full Name: Aadm bin Abi Iyas ('Abdur Rahman bin Muhammad or Nahiyya bin Shu'iab)
Birth Date/Place: 132 AH (Kuurasan)
Death Date/Place: 221 AH ('Asqalan)[ Natural ]
Places of Stay: Khurasan,'Asqalan,Merv,Baghdad,Syria,Hijaz
Area of Interest: Narrator[Grade:Thiqah] [ خ خد ت س ق - ثقة ]

Teachers/

Students/
Narrated By: al-Bukhari, 'Abdullah bin 'Abdur Rahman al-Daarimi, 'Ubaid bin Aadm bin Aby, Abu Hatim al-Razi, 'Abdur Rahman bin 'Amr, يعقوب الفسوي, Yazid bin Muhammad, إسماعيل سمويه, إسحاق بن إسماعيل الرملي نزيل أصبهان



Brief Biography:

Last Updated: 2010-07-01

References: 27[pg:86],18[pg:10/335-338] View
Thiqat[Vol:8] , Tabaqat[Vol:7] , Siyar A'lam[10/335-338] , Tahdheeb al-Tahdheeb[Vol:1] , Taqrib al-Tahdheeb[86]

Narrations:
(Unconfirmed) Sahih Bukhari: 185 Jami' al-Tirmidhi: 1 Sunan an-Nasa'i: 3 Sunan Ibn Majah: 3

Thadeeb al-Kamal:

Names used in Hadith Literature:
آدم بن أبي إياس, آدم

Thiqat Ibn Hibban - ثقات ابن حبان [3rd Century AH, Id:12599. - pg:Vol:8]
آدم بن أبي إياس مولى بني تميم كنيته أبو الحسن أصله من خراسان سكن عسقلان يروى عن شعبة وحماد بن سلمة روى عنه محمد بن إسماعيل البخاري والناس مات سنة عشرين ومائتين واسم أبي إياس عبد الرحمن بن محمد وقد قيل ان اسمه ناهية وكان يورق وكان قصير القامة بمرو ومولده بمرو الروذ ومات بعسقلان

Tabaqat Ibn Sa'd - الطبقات الكبرى ابن سعد [ Fiqh/Hadith Scholar, Id:6169. - pg:Vol:7]
آدم بن أبي إياس ويكنى أبا الحسن وكان من أبناء أهل خراسان من أهل مرو الروذ طلب الحديث ببغداد وسمع من شعبة سماعا كثيرا صحيحا ثم انتقل فنزل عسقلان فلم يزل هناك حتىمات بها في جمادى الآخرة سنة عشرين ومائتين في خلافة أبي إسحاق بن هارون وهو بن ثمان وثمانين سنة وكان قصيرا وكان وراقا

Siyar A'lam al-Dhahbi - سير أعلام النبلاء - الذهبي [ Successor level 11, Id:6082. - pg:10/335-338]
آدم بن أبي إياس ( خ ت س ق )
الإمام الحافظ القدوة شيخ الشام أبو الحسن الخراساني المروذي ثم البغدادي ثم العسقلاني محدث عسقلان واسم أبيه ناهية بن شعيب وقيل عبد الرحمن
ولد سنة اثنتين وثلاثين ومئة
وسمع بالعراق ومصر والحرمين والشام
حدث عن ابن أبي ذئب ومبارك بن فضالة وشعبة بن الحجاج والمسعودي والليث وحريز بن عثمان وورقاء وحماد بن سلمة وشيبان النحوي وإسرائيل بن يونس وحفص بن ميسرة وخلق
وعنه البخاري في صحيحه وأحمد بن الأزهر وأحمد بن عبد الله العكاوي وإسماعيل سمويه وهاشم بن مرثد الطبراني وإسحاق بن سويد الرملي وأبو زرعة الدمشقي وأبو حاتم الرازي وثابت بن نعيم الهوجي وإبراهيم بن ديزيل سيفنه وخلق سواهمقال أبو حاتم الرازي ثقة مأمون متعبد من خيار عباد الله
وذكره أحمد بن حنبل فقال كان مكينا عند شعبة كان من الستة الذين يضبطون عنده الحديث
قال أبو بكر الأعين أتيت آدم العسقلاني فقلت له عبد الله بن صالح كاتب الليث يقرئك السلام فقال لا تقرئه مني السلام قلت ولم قال لأنه قال القرآن مخلوق فأخبرته بعذره وأنه أظهر الندامة وأخبر الناس بالرجوع قال فأقرئه السلام وإذا أتيت أحمد ابن حنبل فأقره السلام وقل له يا هذا اتق الله وتقرب إلى الله تعالى بما أنت فيه ولا يستفزنك أحد فإنك إن شاء الله مشرف على الجنة وقل له أخبرنا الليث عن ابن عجلان عن أبي الزناد عن الأعرج عن أبي هريرة قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من أرادكم على معصية الله فلا تطيعوه قال فأبلغت ذلك أبا عبد الله فقال رحمه الله حيا وميتا فلقد أحسن النصيحة
قال أبو حاتم حضرت آدم بن أبي إياس فقال له رجل سمعت أحمد بن حنبل وسئل عن شعبة أكان يملي عليهم ببغداد أو كان يقرأ قال كان يقرأ وكان أربعة يكتبون آدم وعلي النسائي فقال آدم صدق أحمد كنت سريع الخط وكنت أكتب وكان الناس يأخذون من عنديوقدم شعبة بغداد فحدث بها أربعين مجلسا في كل مجلس مئة حديث فحضرت منها عشرين مجلسا
قال إبراهيم بن الهيثم البلدي بلغ آدم نيفا وتسعين سنة وكان لا يخضب كان أشغل من ذلك يعني من العبادة
قال الحسين الكوكبي حدثني أبو عبد الله المقدسي قال لما حضرت آدم الوفاة ختم القرآن وهو مسجى ثم قال بحبي لك إلا ما رفقت لهذا المصرع كنت أؤملك لهذا اليوم كنت أرجوك ثم قال لا إله إلا الله ثم قضى رحمه الله رواها أحمد بن عبيد عن أبي علي المقدسي
قال محمد بن سعد مات آدم في جمادى الآخرة سنة عشرين ومئتين وهو ابن ثمان وثمانين سنة وفي السنة أرخه يعقوب الفسوي ومطين
وقال أبو زرعة النصري مات سنة إحدى وعشرين
قلت الأول أصح وقد حدث عنه رفيقه بشر بن بكر التنيسي ومات قبله بمدةأنبأنا حماعة قالوا أخبرنا عمر بن محمد أخبرنا ابن الحصين أخبرنا ابن غيلان أخبرنا أبو بكر الشافعي حدثنا إبراهيم بن الهيثم حدثنا آدم حدثنا شيبان عن جابر عن سعيد بن جبير عن ابن عباس قال سئل رسول الله عليه وسلم عن قتل الحية قال خلقت هي والإنسان كل واحد منهما عدو لصاحبه إن رآها أفزعته وإن لدغته قتلته فأقتلها حيث وجدتها
جابر الجعفي واه
وفي سنة عشرين وفاة شيخ القراء قالون وهو الإمام النحوي أبو موسى عيسى بن مينا المدني مولى زهرة وشيخه نافع هو الذي لقبه قالون لجودة أدائه سقت من حاله في ديوان القراء

Tahdheeb al-Tahdheeb Ibn Hajr - تهذيب التهذيب - ابن حجر [ Hadith Narrator, Id:368. - pg:Vol:1]
آدم بن أبي إياس واسمه عبد الرحمن بن محمد ويقال ناهية بن شعيب الخراساني أبو الحسن العسقلاني نشأ ببغداد وارتحل في الحديث فاستوطن عسقلان إلي أن مات روى عن بن أبي ذئب وشعبة وشيبان النحوي وحماد بن سلمة والليث وورقاء وجماعة وعنه البخاري والدارمي وابنه عبيد بن آدم وأبو حاتم وأبو زرعة الدمشقي ويعقوب الفسوي ويزيد بن محمد بن عبد الصمد وإسماعيل سمويه وإسحاق بن إسماعيل الرملي نزيل أصبهان وهو آخر من روى عنه قال أبو داود ثقة وقال أحمد كان مكينا عند شعبة وقال أحمد كان من الستة أو السبعة الذين يضبطون الحديث عند شعبة وقال بن معين ثقة ربما حدث عن قوم ضعفاء وقال أبو حاتم ثقة مأمون متعبد من خيار عباد الله وقال النسائي لا بأس به وقال بن سعد سمع من شعبة سماعا كثيرا مات في خلافة أبي إسحاق سنة 22 ووافقه مطين ويعقوب بن سفيان في سنة وفاته وقال إبراهيم بن الهيثم البلوي بلغ آدم نيفا وتسعين سنة وقال أبو زرعة الدمشقي مات سنة 221 قلت وقال العجلي ثقة وذكره بن حبان في الثقات وفي كتاب بن أبي حاتم عن أبيه عن آدم قال كنت اكتب عند شعبة وكنت سريع الخط وكان الناس يأخذون من عندي >> خ م خد ت س ق البخاري ومسلم وأبي داود في الناسخ والمنسوخ والترمذي والنسائي وابن ماجة

Taqrib al-Tahdheeb Ibn Hajr - تقريب التهذيب - ابن حجر العسقلاني [ Hadith Narrator, Id:132. - pg:86]
آدم بن أبي إياس عبد الرحمن العسقلاني أصله خراساني يكني أبا الحسن نشأ ببغداد ثقة عابد من التاسعة مات سنة إحدي وعشرين خ خد ت س ق