Tuesday, September 17, 2024

ABU 'UBAIDAH IBN AL-JARRAH ( أبو عبيدة بن الجراح ( رضي الله عنه

Nama beliau adalah Abu Ubaidah (Amir) bin ‘Abdillah bin Jarrah bin Hilal, Al-Fihri Al-Qurasyi Al-Makki.

Ibunya adalah Umamah binti Ghanm bin Jabir bin ‘Abdul ‘Uzza bin Amirah bin Umairah, ia sempat menjumpai Islam dan masuk Islam. Ayahnya adalah Abdullah bin Jarrah bin Hilal Al-Fihri, ia tetap dengan kemusyrikannya dan tidak beriman kepada Rasulullah, hingga wafat sebagai orang musyrik setelah dibunuh oleh putranya sendiri saat perang Badar.

Abu Ubaidah lahir tiga belas tahun setelah peristiwa Gajah. Ia lebih muda 13 tahun dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Keutamaan Abu Ubaidah bin Abdillah Al-Jarrah

Ia termasuk generasi pertama yang masuk Islam. Ia masuk Islam sebelum pertemuan di Darul Arqam.

Abu Ubaidah turut berhijrah ke Habasyah, tetapi ia tidak lama tinggal di sana.

Saat di Madinah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mempersaudarakan Abu Ubaidah dengan Sa’ad bin Muadz, menurut versi lain dengan Muhammad bin Maslamah.

Saat berusia 41 tahun, Abu Ubaidah terlibat dalam perang Badar. Ia juga mengikuti perang Uhud. Ketika perang Uhud, dua gigi depannya copot, malah tampilan dirinya menjadi bagus. Giginya ompong dikarenakan ia mencabut dua rantai yang masuk melalui lubang kancing topi besi di wajah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena terkena tebasan.

Abu Ubaidah tidak pernah absen dalam peperangan penting lainnya bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan Abu Ubaidah juga termasuk kalangan yang menghimpun (hafal) Al-Qur’an Al-‘Azhim.

Abu Ubaidah sangat rendah hati dan berakhlak baik.

Abu Ubaidah adalah utusan yang terpercaya.

Abu Ubaidah wafat lantaran penyakit tha’un yang mewabah di Syam, dikenal dengan wabah amwas. Penyakitnya dikenal dengan penyakit pes, menyebar pada tahun 17 H.

Abu Ubaidah wafat pada tahun 18 Hijriyah, pada usia 58 tahun.

Abu Ubaidah hanya menikah dengan satu istri sepanjang hidupnya yaitu Hindun binti Jabir bin Wahab bin Dhibab bin Hujair bin Abd bin Ma’ish bin Amir bin Lu’ai. Ia memiliki dua anak yaitu Yazid dan Umair. Kedua anaknya meninggal dunia, sehingga Abu Ubaidah tidak memiliki keturunan.


Kisah Abu Ubaidah yang membunuh ayahnya

Disebutkan dalam firman Allah,

﴿لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللهَ وَرَسُولَهُ، وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ، أُولَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الْإِيمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ، وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا، رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ، أُولَئِكَ حِزْبُ اللهِ، أَلَا إِنَّ حِزْبَ اللهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ﴾

“Kamu tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, atau pun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang dari-Nya. Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam Surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung.” 

(QS. Al-Mujadilah: 22)

Ibnu Katsir menafsirkan ayat tersebut, “Orang-orang beriman tidaklah mencintai orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, walaupun mereka adalah kerabat dekat.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7:212)

Dalam ayat, yang dimaksud “walau itu bapak mereka” adalah kisah Abu ‘Ubaidah yang membunuh ayahnya saat Perang Badar. “Walau itu anaknya” yaitu kisah seorang putra yang bernama ‘Abdurrahman yang dibunuh oleh bapak kandungnya dalam peperangan. “Walau itu saudaranya” yaitu kisah Mush’ab bin ‘Umair sewaktu ia membunuh saudaranya, ‘Ubaid bin ‘Umair. “Walau itu kerabatnya” yaitu kisah ‘Umar yang membunuh keluarga dekatnya. Begitu pula kisah Hamzah, Ali, dan ‘Ubaidah bin Al-Harits yang membunuh kerabatnya, yaitu ‘Utbah, Syaibah, dan Al-Walid bin ‘Utbah. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7:212-213)

Sumber 


**********************************************************


Abu 'Ubaidah ibn al-Jarrah 
( أبو عبيدة بن الجراح ( رضي الله عنه


Scholar: 10 - Abu 'Ubaidah ibn al-Jarrah [Abu 'Ubaidah] 
Comp.(RA) [1st Generation]

Full Name: 'Amir ibn 'Abdullah ibn al-Jarrah b. Hilal b. Uhaib b. Dabbah b. Al-Harith b. Fihr b. Malik

Parents: 'Abdullah ibn al-Jarrah / Umm Ghanm bint Jabir bin 'Abdul-'Uzza
Birth Date/Place: 40 BH/584 CE (Makkah)
Death Date/Place: 18 AH/640 CE ('Amawas, Palestine)[ Natural/Plague ]
Places of Stay: Makkah/Medina/Syria
Area of Interest: Recitation/Quran, Commander, Narrator [ ع - صحابة ]
Spouse(s): Hind bint Jabar, Warja
Children : Yazid and 'Ubaidah, 'Umair

Teachers/
Narrated From: Muhammad (saw),

Students/



Brief Biography:

Abū 'Ubaidah ibn al-Jarrāḥ, was one of the ten companions of the Prophet Muhammad who were promised Paradise. He remained commander of a large section of Muslim armies during the time of Caliph 'Umar ibn al-Khattab and was on the list of 'Umar’s appointed successors to the Caliphate. The Brotherhood was made b/w him and Sa'd bin Mua'dh (or some say Salim Client of Abu Hudhayfa).

The Prophet (saas) publicly named ten men who would be guaranteed Paradise in the Hereafter. One of these fortunate men was Abu ‘Ubaidah bin Al-Jarrah. He was one of the earliest to accept Islam in its early days in Mecca. He took part in the migrations to Ethiopia and Medina for the sake of preserving his faith. He fought in all the major battles of Islam and spent most of his life as a soldier for Allah’s cause. He even killed his own father in battle when his father vowed to slay him for accepting Islam. Praising his character, the Prophet (saas) said: “Every Ummah has a trustworthy man; Abu ‘Ubaidah is the trustworthy man of this Ummah“.

Last Updated: 2011-08-25

References: 9[pg:84],14[333-336] View

Narrations:
(Unconfirmed) Sahih Bukhari: 1 Sahih Muslim: 5 Sunan Abi Da'ud: 9 Jami' al-Tirmidhi: 8 Sunan an-Nasa'i: 10 Sunan Ibn Majah: 14

Thadeeb al-Kamal:

Names used in Hadith Literature:
أبي عبيدة, أبي عبيدة بن الجراح, أبي عبيدة بن الجراح حديث الدجال

SA'ID BIN ZAYD ( سعيد بن زيد ( رضي الله عنه

Sa'id bin Zayd 
( سعيد بن زيد ( رضي الله عنه

Scholar: 11 - Sa'id bin Zayd [Abu-al-Aawar] 
Comp.(RA) [1st Generation]

Full Name: Sa'id bin Zayd bin 'Amr b. Nufayl b. 'Abd al-Uzza b. Riyah b. 'Abdullah b. Qurt b. Razah b. 'Adi
Birth Date/Place: ~23 BH/594 CE (Makkah)
Death Date/Place: 50 AH/671 CE (Medinah)[ Natural ]
Places of Stay: Makkah/Medina/Kufa
Area of Interest: Recitation/Quran, Narrator [ ع - صحابة ], Commander
Children : Asma bint Sa'id bin Zayd, Zayd, Hisham bin S'aid bin Zayd, 'Abdur Rahman

Teachers/
Narrated From: Muhammad (saw),

Students/



Brief Biography:

Before Islam, Said ibn Zayd was a hanif, the monotheistic tradition of Abraham, and hence never worshipped idols and used to mock his uncle Khattab ibn Nufayl for worshipping idols, which made him the object of his uncle's wrath. Fatima bint Ba'aja bin Umayyah bin Khuwailid

Last Updated: 2010-12-19

References: 3[pg:37-38],14[312-317] View

Tabaqat[Vol:3] , Tabaqat[Vol:6] , Siyar A'lam[1/124-145] , Tahdheeb al-Tahdheeb[Vol:4] , Taqrib al-Tahdheeb[236]

Narrations:
(Unconfirmed) Sahih Bukhari: 8 Sahih Muslim: 11 Sunan Abi Da'ud: 6 Jami' al-Tirmidhi: 10 Sunan an-Nasa'i: 4 Sunan Ibn Majah: 7

Thadeeb al-Kamal:

Names used in Hadith Literature:
سعيد بن زيد بن عمرو بن نفيل, سعيد بن زيد, هو سعيد بن زيد بن عمرو بن نفيل, سعيد بن زيد بن عمرو, سعيد بن زيد حديث عشرة في الجنة

‘ABDUL 'AZIZ BIN 'ABDULLAH BIN YAHYA BIN 'AMRU BIN UWAIS [عبد العزيز بن عبد الله بن يحيى الأويسي]

Nama : Abdul 'Aziz bin 'Abdullah bin Yahya bin 'Amru bin Uwais
Kalangan : Tabi'ul Atba' kalangan tua
Nasab : Al Uwaisiy Al Qurasyiy
Kuniyah : Abu Al Qasim
Laqob :
Negeri semasa hidup : Madinah
Wafat : tahun

UlamaKomentar
Ibnu Hibban disebutkan dalam 'ats tsiqaat
Ya'kub bin Syaibah Tsiqah
Abu Hatim Shaduuq
Ad Daruquthni Hujjah
Al Khalili Tsiqah
Ibnu Hajar al 'Asqalani Tsiqah
Adz Dzahabi Tsiqah

***********************************************************************

'Abdul 'Aziz bin 'Abdullah al-Uvaisi 
عبد العزيز بن عبد الله بن يحيى الأويسي

Scholar: 30105 - 'Abdul 'Aziz bin 'Abdullah al-Uvaisi [Abu al-Qasim] 
3rd Century AH [10th generation]

Full Name: 'Abdul 'Aziz bin 'Abdullah bin Yahya bin 'Amr bin Uvais bin Sa'd bin Abi Sarah
Death Date/Place: ~220 AH ()[ Natural ]
Places of Stay: Medina
Area of Interest: Narrator[Grade:Thiqah] [ خ د ت كن ق - ثقة ], Fiqh

Students/
Narrated By: al-Bukhari, Abu Da'ud, Imam Tirmidhi, Ibn Maja, ابن ماجة بواسطة هارون الحمال, 'Abdullah bin Abi Ziyad, Muhammad bin 'Ali in Maymun, Muhammad bin Yahya bin Faris al-Dhahli, Abu Hatim al-Razi, Abu Zara' al-Razi, Abu al-Ahwas, Muhammad bin al-Haytham, Muhammad bin 'Abdul Rahim bin Abi Zuhayr, Ibrahim bin Sa'id al-Juhari, عبد الملك بن حبيب الفقيه المالكي, al-Rabi' bin Sulaiman bin Da'ud, الحسن بن علي بن زياد السري,

Brief Biography:

Last Updated: 2011-01-26

References: 27[pg:357] View
Thiqat[Vol:8] , Tarikh-ul Kabir[] , Tabaqat[Vol:5] , Siyar A'lam[10/389-389] , Lisan al-Mizan[Vol:7] , Lisan al-Mizan[Vol:7] , Tahdheeb al-Tahdheeb[Vol:6] , Tahdheeb al-Tahdheeb[Vol:12] , Taqrib al-Tahdheeb[357]

Narrations:
(Unconfirmed) Sahih Bukhari: 95 Sunan Abi Da'ud: 1 Jami' al-Tirmidhi: 2 Sunan an-Nasa'i: 1 Sunan Ibn Majah: 2

Thadeeb al-Kamal:

Names used in Hadith Literature:
عبد العزيز الأويسي, عبد العزيز بن عبد الله الأويسي, عبد العزيز بن عبد الأويسي, عبد العزيز بن عبد الله, الأويسي

'UTSMAN BIN 'UMAR BIN FARIS BIN LAQITH [عثمان بن عمر بن فارس]

Nama : Utsman bin 'Umar bin Faris bin Laqith
Kalangan : Tabi'ut Tabi'in kalangan biasa
Nasab : Al 'Abdiy
Kuniyah : Abu Muhammad
Laqob :
Negeri semasa hidup : Bashrah
Wafat : Bashrah tahun 209 H

Ulama Komentar
Adz Dzahabi Tsiqah
Ibnu Hajar Tsiqah
Ahmad bin Hambal Tsiqah
Yahya bin Ma'in Tsiqah
Abu Hatim Shaduuq
Ibnu Hibban disebutkan dalam 'Ats Tsiqat'


*********************************************************************


'Uthman bin 'Umar bin Fars 
عثمان بن عمر بن فارس

Scholar: 20262 - 'Uthman bin 'Umar bin Fars 
Succ. (Taba' Tabi') [9th generation]

Full Name: 'Uthman bin 'Umar bin Fars
Death Date/Place: 209 AH ()[ Natural ]
Places of Stay: Basra
Area of Interest: Narrator[Grade:Thiqah] [ ع - ثقة ]

Teachers/

Students/
Narrated By: Ahmad bin Hanbal, إسحاق, Muhammad bin Bashar Bindar, Muhammad bin al-Muthna - al-Zaman, 'Abdullah bin Muhammad al-Musandi, Ahmed bin Sa'id bin Sakhar, Ibrahim bin Yonus bin Muhammad, أيوب الجوزجاني, أحمد بن الكردي, Hajjaj bin Yusuf bin al-Sha'ir, Ahmed bin Mansur al-Ramadi, Zuhayr bin Harb, أبو داود السنجي, Sulaiman bin Syf bin Yahya, عباس العنبري, Malik bin Abd al-Wahd, 'Amr bin 'Ali bin Bahr al-Bahli, Mjahd bin Musa, Muhammad bin Yahya bin Faris al-Dhahli, Harun bin 'Abdullah al-Hamal, Yahya bin Hakeem al-Maquuam, يزيد بن سنان البصري, Ibrahim bin Marzuq bin Dinar, Ahmed bin al-Frat bin Khalid, al-Harith bin Muhammad bin Abi Usama, Muhammad bin Yonus al-Kadaymi, محمد بن سنان الفزاري, عبد الله بن روح المدائني,

Tags : al-'Abdi, Basri


Brief Biography:

بصري * العبدي * مات سنة تسع ومائتين *

Last Updated: 2010-06-12

References: 27[pg:385] View
Thiqat[Vol:8] , Tarikh-ul Kabir[] , Tabaqat[Vol:7] , Siyar A'lam[9/557-559] , Lisan al-Mizan[Vol:7] , Tahdheeb al-Tahdheeb[Vol:7] , Taqrib al-Tahdheeb[385]

Narrations:
(Unconfirmed) Sahih Bukhari: 17 Sahih Muslim: 11 Sunan Abi Da'ud: 15 Jami' al-Tirmidhi: 12 Sunan an-Nasa'i: 16 Sunan Ibn Majah: 10

Thadeeb al-Kamal:

Names used in Hadith Literature:

عثمان بن عمر بن فارس, عثمان بن عمر, عثمان بن عمر بن, عثمان بن عمر بن فارسي

'UBAIDULLAH BIN 'ABDULLAH BIN 'UTBAH BIN MAS'UD [عبيد الله بن عبد الله بن عتبة بن مسعود]

Nama : Ubaidullah bin 'Abdullah bin 'Utbah bin Mas'ud
Kalangan : Tabi'in kalangan pertengahan
Nasab : Al Hudzaliy
Kuniyah : Abu 'Abdullah
Laqob :
Negeri semasa hidup : Madinah
Wafat : tahun 98 H

UlamaKomentar
Al 'Ajli tsiqah
Abu Zur'ah tsiqah ma'mun imam
Ibnu Hibban disebutkan dalam 'ats tsiqaat
Ibnu Hajar tsiqah faqih tsabat
Adz Dzahabi salah satu lautan ilmu

************************************************************


Nama sebenarnya adalah Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah bin Mas’ud al-Hudzaly, seorang ulama ta’biin yang terkenal, Ubaidullah menerima ilmunya dari beberapa tabi’in yang terkenal dan juga menerima ilmunya dari beberapa orang sahabat seperti Ibnu Umar,Ibnu Abbas, Abu Hurairah, Abu Sa’id al-Khudlry, Abu Waqid al-Laitsy, Zaid ibn Khalid, an Nu’man bin Basyir, Aisyah, Fatimah binti Qais, dan lainnya.

Hadist hadistnya diriwayatkan dari Irak bin Malik, az-Zuhry, Abu Zinad, Shalih bin Kaisan dan lain lain.

Para ulama sepakat ia orang yang tsiqah, kuat hapalannya hingga Ibnu Abbas menghormatinya sebagai orang yang tinggi ilmunya dalam bidang hadist dan fiqh.

Az-Zuhry berkata,” Saya tidak duduk dengan seorang alim melainkan saya merasakan bahwa saya mengetahui ilmunya, selain dari Ubaidullah yang setiap saya dating kepadanya, saya memperoleh ilmu yang baru”.

Ibnu Sa’ad berkata.” Ubaidullah,adalah seorang yang alim dan tsiqah, ahli dalam bidang fiqh dan banyak hadistnya”.

Karena tinggi kedudukannya dan banyak ilmunya maka ia dipilih menjadi guru untuk Umar bin Abdul Aziz.

Ia wafat pada tahun 94 H.

Disalin dari Biografi ‘Ubaidullah bin Abdullah dalam dalam Tahdzibul Asma an Nawawi, Tahdzib at Tahdzib Ibn Hajar asqalanii


***************************************

'Ubaydullah bin 'Abdullah bin 'Utba 
عبيد الله بن عبد الله بن عتبة بن مسعود

Scholar: 11004 - 'Ubaydullah bin 'Abdullah bin 'Utba [Abu 'Abdullah] 
Follower(Tabi') [3rd Generation]

Full Name: 'Ubaydullah bin 'Abdullah bin 'Utba bin Mas'ud bin Ghafil b. Habib
Parents: 'Abdullah bin 'Utba / Umm Walad

Birth Date/Place: ~16 AH/639 CE (Medinah)
Death Date/Place: 94 AH/715 CE or 97 AH (Medinah)[ Natural ]
Places of Stay: Medinah
Area of Interest: Narrator[Grade:Thiqah Thiqah] [ ع - ثقة ], Fiqh, Seerah, Tafsir/Quran, Hadith

Teachers/

Students/



Brief Biography:

He transmitted from Ibn 'Abbas, 'A'isha, and Abu Hurayra. He was a teacher of 'Umar ibn 'Abdu'l-'Aziz and had a profound effect on his intellect and person. In addition to his knowledge of fiqh and hadith and his good character, he composed poetry. He died in 98 or 99 AH. It is also said that it was earlier than that, in 94 AH.

Last Updated: 2012-06-25

References: 18[pg:4/475-479] View
Thiqat[Vol:5] , Tarikh-ul Kabir[] , Tabaqat[Vol:5] , Siyar A'lam[4/475-479] , Tahdheeb al-Tahdheeb[Vol:7] , Taqrib al-Tahdheeb[372]

Narrations:
(Unconfirmed) Sahih Bukhari: 150 Sahih Muslim: 55 Sunan Abi Da'ud: 41 Jami' al-Tirmidhi: 20 Sunan an-Nasa'i: 67 Sunan Ibn Majah: 35

Thadeeb al-Kamal:

Names used in Hadith Literature:
عبيد الله بن عبد الله بن عتبة, عبيد الله بن عبد الله عتبة بن مسعود, عبد الله بن عبد الله بن عتبة, عبيد الله بن عبد الله, عبيد الله بن عبد الله بن عتبة بن مسعود

Sunday, July 7, 2024

AL-HAJJAJ BIN YUSUF ATS-TSAQAFI [الحجاج بن يوسف الثقفي]

Nama penuhnya adalah Hajjaj bin Yusuf bin Abu Uqail bin Mas’ud al-Thaqafi. Ibunya pula bernama Al-Fari’ah bin Yusuf binti Hammam bin Urwah bin Mas’ud Ath-Tsaqafi. Dia lahir di kota Tha’if pada tahun 660 M. Imam al-Dzahabi mengulas mengenai peribadi mengenai Hajjaj iaitu:

“Al Hajjaj, Allah memusnahkannya di bulan Ramadhan tahun 95 Hijrah dalam keadaan tua, dan beliau adalah seorang yang zalim, bengis, naashibi (pembenci Ahlul Bait), keji, suka menumpahkan darah, memiliki keberanian, kelancangan, tipu daya, dan kelicikan, kefasihan, ahli bahasa, dan kecintaan terhadap Al Quran.

Aku (Imam al-Dzahabi) telah menulis tentang sejarah hidupnya yang buruk dalam kitabku Al-Tarikh Al-Kabir, mengenai pengepungannya terhadap Ibnu al-Zubair dan Ka’bah, serta perbuatannya melempar Ka’bah dengan manjaniq, penghinaannya terhadap penduduk Al Haramain (dua tanah haram), penguasaannya terhadap ‘Iraq dan wilayah timur, semuanya selama 20 tahun.

Juga peperangannya dengan Ibnul Asy’ats, sikapnya melambat-lambat (melalaikan) solat sehinggalah Allah mematikannya, maka kami mencelanya, dan kami tidak mencintainya, sebaliknya kami membencinya kerana Allah.” (Siyar A’lam An Nubala’, 4/343)

Hajjaj wafat di Wasith pada 714 M pada zaman Khalifah Al-Walid. Imam Ibnu Katsir berkata :

“Lebih dari seorang yang meriwayatkan bahwa Al Hasan (Al Basri) ketika dikhabarkan dengan berita gembira mengenai kematian Al Hajjaj, beliau langsung melakukan sujud syukur kepada Allah Ta’ala yang mana sebelumnya beliau bersembunyi, maka setelah itu beliau menonjolkan diri. Lalu beliau berdoa: “Ya Allah, matikanlah dia dan hilangkanlah sunnahnya (kebiasaan-kebiasaannya) dari diri kami.”

Hammad bin Sulaiman berkata, “Apabila aku mengkhabarkan kepada Ibrahim An Nakha’i tentang kematian Al Hajjaj, beliau pun menangis kerana gembira.” (Ibnu Katsir, Al Bidayah wa An Nihayah, 9/159).

Kata Al Waqidi, “Bahwa Al Hajjaj men!ggal dengan meninggalkan 300 dirham, sebuah mushaf, sebilah pedang, pelana, sekedup, dan seratus baju besi (armour) yang diwakafkan.” (Tarikh Dimasyq, 12/191 dan al-Bidayah wa al-Nihayah, 9/159)


Imam Adz Dzahabi menyebutkan tentang Al Hajjaj bin Yusuf, “Al Hajjaj, Allah memusnahkannya di bulan Ramadhan tahun 95 Hijrah dalam keadaan tua, dan beliau adalah seorang yang zhalim, bengis, naashibi (pembenci Ahlul Bait), keji, suka menumpahkan darah, memiliki keberanian, kelancangan, tipu daya, dan kelicikan, kefasihan, ahli bahasa, dan kecintaan terhadap Al Quran. Aku (Imam Adz Dzahabi) telah menulis tentang sejarah hidupnya yang buruk dalam kitabku At Tarikh Al Kabir, mengenai pengepungannya terhadap Ibnu Az Zubair dan Ka’bah, serta perbuatannya melempar Ka’bah dengan manjaniq, penghinaannya terhadap penduduk Al Haramain (dua tanah haram), penguasaannya terhadap ‘Iraq dan wilayah timur, semuanya selama 20 tahun. Juga peperangannya dengan Ibnul Asy’ats, sikapnya melambat-lambat (melalaikan) shalat sehinggalah Allah mematikannya, maka kami mencelanya, dan kami tidak mencintainya, sebaliknya kami membencinya karena Allah.” 

(Siyar A’lam An Nubala’, 4: 343)

Apa saja kekejaman Al Hajjaj?

Al Hajjaj pernah berkata di mimbar Wasith (di kota Wasith), “‘Abdullah bin Mas’ud adalah pemimpin golongan munafiq. Kalau aku menemuinya aku akan basahkan muka bumi dengan darahnya.” (Al Bidayah wa An Nihayah, 9: 149)

Al Hafizh Ibnu Katsir menjelaskan, “Dan ini termasuk kekurangajaran Al Hajjaj, semoga Allah memburukkannya, dan termasuk kelancangannya mengungkapkan perkataan yang buruk, serta menumpahkan darah tanpa haq. Beliau dengki dengan qira’ah (bacaan) Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu karena menyelisihi qira’ah pada mushaf induk yang dihimpunkan manusia pasa masa ‘Utsman.” (Al Bidayah wa An Nihayah, 9: 149)

Al Qa’qa’ bin Ash Shalt berkata: “Al Hajjaj pernah berkhuthbah lalu beliau mengatakan dalam khuthbahnya, “Sesungguhnya Ibnu Az Zubair mengubah Kitab Allah.” (Al Bidayah wa An Nihayah, 9: 140)



Ia adalah Al-Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi, salah seorang gubernur di daerah Baghdad di bawah pemerintahan Khalifah Bani Umayyah, ‘Abdul Malik bin Marwan. Ia dibesarkan di keluarga yang terhormat dari kalangan Bani Tsaqif. Ayahnya adalah seorang yang taat dan berilmu. Sebagian besar waktu sang ayah dihabiskan di kampungnya, Thaif, mengajarkan anak-anaknya Alquran. Dengan didikan sang ayah, Hajjaj pun berhasil menghafalkan Al-Qur’an secara sempurna, 30 juz. Sampai-sampai ada ulama yang menyanjung Hajjaj.

Abu Amr bin Ala’ mengatakan, “Aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih fasih (dalam berbahasa) seperti Hasan al-Bashri kemudian Hajjaj.”

Walau punya sisi baik, Hajjaj lebih dikenal sebagai seorang pemimpin dan gubernur yang bengis dan keji.

Kebengisan dari Al-Hajjaj bin Yusuf dimulai saat ia diangkat memimpin pasukan perang dari Abdul Malik bin Marwan untuk melawatn Abdullah bin Zubair. Setelah itu, Al-Hajjaj bin Yusuf diangkat menjadi Gubernur Irak.

Hajjaj pernah berperang dengan ‘Abdurrahman bin Al-Asy’ats dan akibatnya menewaskan ribuan orang.

Ada lagi yang disebutkan dalam sunan Tirmidzi, Hisyam bin Hassan berkata, “Mereka menghitung jumlah manusia yang dibunuh oleh Al-Hajjaj secara zhalim (dibunuh dengan cara tidak diberi makan dan minum), jumlahnya mencapai sebanyak 120.000 orang manusia.” (HR. Tirmidzi, no. 2220; Ahmad, 2: 26. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Namun meski kejam seperti itu, ada sisi baik dari Hajjaj seperti yang disebutkan oleh Imam Ibnu Katsir.

Ibnu Katsir berkata, “Diriwayatkan kepada kami dari beliau bahwa beliau meninggalkan hal-hal yang memabukkan, banyak membaca Al Qur’an, menjauhi larangan-larangan, dan tidak dikenali sebagai orang yang pernah terjerumus perzinaan (perselingkuhan), walaupun dia terlalu berani dalam hal menumpahkan darah.” (Al-Bidayah wa An-Nihayah, 9: 153)

Di antara jasa-jasa Hajjaj yang paling besar lagi adalah keseriusannya dalam memberi titik dan harakat pada huruf-huruf Alquran.

Inilah yang menunjukkan bahwa seorang pemimpin muslim, sejelek-jeleknya dia, tetap masih ada sisi baik. Jadi jangan menganggap bahwa pemimpin muslim mutlak jeleknya, seperti penilaian sebagian kita. Sebagian kita menganggap bahwa pemimpin muslim itu lebih koruptor dibanding pemimpin non-muslim.

Lalu bagaimanakah sikap para sahabat dan ulama terhadap kekejian Hajjaj? Apakah mereka ingin membunuh gubernur semacam itu atau melakukan pemberontakan padanya?

عَنِ الزُّبَيْرِ بْنِ عَدِىٍّ قَالَ أَتَيْنَا أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ فَشَكَوْنَا إِلَيْهِ مَا نَلْقَى مِنَ الْحَجَّاجِ فَقَالَ « اصْبِرُوا ، فَإِنَّهُ لاَ يَأْتِى عَلَيْكُمْ زَمَانٌ إِلاَّ الَّذِى بَعْدَهُ شَرٌّ مِنْهُ ، حَتَّى تَلْقَوْا رَبَّكُمْ » . سَمِعْتُهُ مِنْ نَبِيِّكُمْ – صلى الله عليه وسلم –

Dari Az Zubair bin ‘Adiy, ia berkata, “Kami pernah mendatangi Anas bin Malik. Kami mengadukan tentang (kekejaman) Al Hajjaj pada beliau.

Anas pun mengatakan, “Sabarlah, karena tidaklah datang suatu zaman melainkan keadaan setelahnya lebih jelek dari sebelumnya sampai kalian bertemu dengan Rabb kalian. Aku mendengar wasiat ini dari Nabi kalian shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Bukhari, no. 7068)

Lihatlah sikap kita pada pemimpin zalim seperti Al-Hajjaj malah diperintahkan untuk taat, bukan memberontak atau membunuhnya. Yang diperintahkan adalah BERSABAR. Karena kalau pun Hajjaj itu lengser karena ada yang memberontak atau pun terbunuh, belum tentu kita bisa mendapatkan pemimpin yang baik setelah itu.

Lebih-lebih lagi selama pemimpin kita itu muslim dan memperhatikan shalat, wajib ditaati.

Dari ‘Auf bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خِيَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ وَيُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ وَيُبْغِضُونَكُمْ وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ ». قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلاَ نُنَابِذُهُمْ بِالسَّيْفِ فَقَالَ « لاَ مَا أَقَامُوا فِيكُمُ الصَّلاَةَ وَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْ وُلاَتِكُمْ شَيْئًا تَكْرَهُونَهُ فَاكْرَهُوا عَمَلَهُ وَلاَ تَنْزِعُوا يَدًا مِنْ طَاعَةٍ

“Sebaik-baik pemimpin kalian adalah yang kalian mencintai mereka dan mereka pun mencintai kalian. Mereka mendo’akan kalian dan kalian pun mendo’akan mereka. Sejelek-jelek pemimpin kalian adalah yang kalian membenci mereka dan mereka pun membenci kalian, juga kalian melaknat mereka dan mereka pun melaknat kalian.” Kemudian ada yang berkata, ”Wahai Rasulullah, tidakkah kita menentang mereka dengan pedang?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak, selama mereka masih mendirikan shalat di tengah-tengah kalian. Jika kalian melihat dari pemimpin kalian sesuatu yang kalian benci, maka bencilah amalannya dan janganlah melepas ketaatan kepadanya.” (HR. Muslim, no. 1855)

Janganlah seperti orang Jahiliyyah, yang tidak mau punya pemimpin.

Dalam hadits disebutkan,

مَنْ كَرِهَ مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا فَلْيَصْبِرْ ، فَإِنَّهُ مَنْ خَرَجَ مِنَ السُّلْطَانِ شِبْرًا مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً

“Barangsiapa yang tidak suka sesuatu pada pemimpinnya, bersabarlah. Barangsiapa yang keluar dari ketaatan pada pemimpin barang sejengkal, maka ia mati dalam keadaan mati jahiliyah.” (HR. Bukhari, no. 7053; Muslim no. 1849)



Lalu tugas kita menghadapi pemimpin yang kita tidak sukai, bagaimana?

Bersabar dan mendo’akan kebaikan untuk pemimpin kita.

Fudhail bin ‘Iyadh pernah berkata,

لَوْ أَنَّ لِي دَعْوَةً مُسْتَجَابَةً مَا صَيَّرْتُهَا اِلاَّ فِي الاِمَامِ

“Seandainya aku memiliki doa yang mustajab, aku akan tujukan doa tersebut pada pemimpinku.”

Ada yang bertanya pada Fudhail, “Kenapa bisa begitu?”

Ia menjawab, “Jika aku tujukan doa tersebut pada diriku saja, maka itu hanya bermanfaat untukku. Namun jika aku tujukan untuk pemimpinku, maka rakyat dan negara akan menjadi baik.” (Hilyatul Auliya’ karya Abu Nu’aim Al Ashfahaniy, 8: 77)




al-Hajjaaj ibn Yoosuf ath-Thaqafi was the governor of Iraq for the caliph ‘Abd al-Malik ibn Marwaan. He was known for oppression and bloodshed, showing disrespect to the early generations [the Sahaabah and Taabi‘een] and transgressing all the sacred limits of Allah for the slightest reason. The historians and biographers are unanimously agreed that he was one of the worst oppressors and the quickest to shed to kill people unlawfully. He did not show respect to the Messenger of Allah (blessings and peace of Allah be upon him) in the way he treated his companions, and he showed no respect to the Prophet’s instructions to show kindness and respect to the scholars and people of virtue and righteousness among the followers of his companions. He was a vile Naasibi who hated ‘Ali ibn Abi Taalib (may Allah be pleased with him) and his family.

Ibn Katheer (may Allah have mercy on him) said:

He was a Naasibi who hated ‘Ali and his supporters so as to appease the family of Marwaan, namely Banu Umayyah. He was a stubborn tyrant, always ready to shed innocent blood for the slightest reason.

Some ugly and abhorrent words were narrated from him, the apparent meaning of which sounds like disbelief (kufr). If he had repented from that and given it up, that would have been counted in his favour, otherwise he is responsible for what he said. But there is the fear that these reports may have been inaccurate, with things added to what he said, because the Shi‘ah hated him intensely for many reasons, and they may have distorted some of his words and added to what they narrated from him some abhorrent and ugly words." (Al-Bidaayah wa’n-Nihaayah 9/153).

It was narrated from Asma’ bint Abi Bakr (may Allah be pleased with her) that she said to al-Hajjaaj: The Messenger of Allah (blessings and peace of Allah be upon him) told us that among Thaqeef there would be a liar and a shedder of blood. As for the liar, we have seen him; as for the shedder of blood, I do not think but that you are he.

The shedder of blood is the one who goes to extremes in killing people.

From an early age al-Hajjaaj was known to be intelligent, well-spoken and eloquent, and a hafiz of Qur’an. Some of the early generations said: al-Hajjaaj used to recite the entire Qur’an every night. Abu ‘Amr ibn al-‘Ala’ said: I have never seen anyone more eloquent [in Arabic] than him and al-Hasan al-Basri, but al-Hasan was more eloquent than him.

‘Uqbah ibn ‘Aamir said: I think that in terms of intelligence, people are close to one another, except al-Hajjaaj and Iyaas ibn Mu‘aawiyah, for their intelligence stood out in comparison to other people." (Al-Bidaayah wa’n-Nihaayah 9/138-139).

Ibn Katheer said:

It was narrated to us that he was a religious person with regard to keeping away from intoxicants. He recited Qur’an a great deal and avoided other sins. It was not known that he ever committed fornication; however, he would not hesitate to shed the blood of innocent people. Allah, may He be exalted, knows best what is true and how matters really were, what is hidden of such matters and what is concealed in people’s hearts.

The worst of his evil deeds that made people hate him and it is proven that he did it was shedding blood. That is sufficient to make him deserve punishment from Allah, may He be glorified and exalted. However, he was very keen to engage in jihad and conquer many lands. He was very generous and gave gifts to the people of the Qur’an; he would spend a great deal on the reciters of the Qur’an and when he died, he did not leave behind anything except three hundred dirhams, or so it was said." (Al-Bidaayah wa’n-Nihaayah 9/153).

He was a man of great chivalry, but he often hastened to use his sword unlawfully. He killed many people for the slightest reason whom he had no right to kill, and when he got angry he would act on his anger (and wreak vengeance, punishing people) as if he were a king. " (Al-Bidaayah wa’n-Nihaayah 9/138).

He went to extremes in transgressing the limits and would hasten to do evil; he would bear grudges and was filled with envy.

It was narrated from ‘Aasim ibn Abi’n-Najood and al-A‘mash that they heard al-Hajjaaj say to the people: By Allah, if I ordered you to exit through this door and you exited through that door, it would become permissible for me to shed your blood. If I find anyone reciting Qur’an according to the recitation of Ibn Umm ‘Abd [‘Abdullah ibn Mas‘ood], I will strike his neck and erase it from that Mus-haf, even if I have to use the rib of a pig.

Al-Asma‘i said: ‘Abd al-Malik said to al-Hajjaaj one day: There is no one but he knows his shortcomings, so tell me about your shortcomings. He said: Let me off, O Ameer al-Mu’mineen. But he insisted, so al-Hajjaaj said: I am very stubborn, and my heart is filled with grudges and envy. ‘Abd al-Malik said: Then you must be descended from Iblees!" (Al-Bidaayah wa’n-Nihaayah 9/149-153).

A number of leading scholars were of the view that he was a disbeliever (kaafir), although most of the scholars did not think that he was a disbeliever. Some of the Sahaabah, such as Anas and Ibn ‘Umar, prayed behind him, and if they had regarded him as a disbeliever, they would not have prayed behind him.

It was narrated that Qataadah said: It was said to Sa‘eed ibn Jubayr: Did you rebel against al-Hajjaaj? He said: By Allah, I did not rebel against him until he became a disbeliever.

Al-A‘mash said: They differed concerning al-Hajjaaj, so they asked Mujaahid and he said: Are you asking me about this disbelieving old man?

Al-Bidaayah wa’n-Nihaayah (9/157-156).

Ash-Sha‘bi said: al-Hajjaaj was a believer in taaghoot (falsehood), and a disbeliever in Allah the Almighty.

Al-Qaasim ibn Mukhaymarah said: al-Hajjaaj is undoing the knots of Islam.

It was narrated that ‘Aasim ibn Abi’n-Najood said: There is no sacred limit ordained by Allah, may He be exalted, but al-Hajjaaj transgressed it." (Taareekh Dimashq 12/185-188).

At-Tirmidhi narrated in his Sunan (2220) that Hishaam ibn Hassaan said: They counted how many people al-Hajjaaj captured then killed, and the number reached one hundred and twenty thousand.

‘Umar ibn ‘Abd al-‘Azeez said: If the nations were to compete in evildoing when al-Hajjaaj is part of our community, we would surpass them in evil because of his evil deeds. He was not good for the people’s affairs in this world or in the hereafter." (Taareekh Dimashq 12/185).

He was careless and heedless about prayer, and did not pray on time:

‘Umar ibn ‘Abd al-‘Azeez wrote to ‘Adiy ibn Artaat, saying: I have heard that you are following in the footsteps of al-Hajjaaj. Do not follow in his footsteps, for he used to offer the prayer after the time for it had ended and take people’s wealth unlawfully, and he was even more negligent with regard to other matters." ( Taareekh Dimashq 12/187).

Adh-Dhahabi (may Allah have mercy on him) said:

He was an oppressor, a tyrant, a Naasibi, an evil man and a shedder of blood.

He was very courageous, brave, devious, crafty, well-spoken and eloquent, and he had a great deal of respect for the Qur’an.

I have mentioned his bad conduct in at-Taareekh al-Kabeer, including his siege of Ibn az-Zubayr when he holed up at the Ka‘bah, how he launched projectiles at it with the catapult, and how he humiliated the residents of the Haramayn (the two holy cities of Makkah and Madinah); then his governorship of Iraq and the entire East (i.e., Persia) for twenty years; the rebellion of Ibn al-Ash‘ath against him; and his delaying of prayers until Allah eradicated him.

We revile him and do not love him; rather we hate him for the sake of Allah, for that is one of the strongest bonds of faith.

He did some good deeds, but they are like drops in the ocean of his evil deeds, and his ultimate fate is subject to the will of Allah.

He affirmed Allah’s oneness (Tawheed) in general, and there are other oppressive tyrants and governors of his ilk. End quote.

Siyar A‘laam an-Nubala’ (4/343).

To sum up, the man did a great deal of wrong and transgressed against the people, and he wronged himself a great deal.

He did some good deeds, but they are like drops in the ocean of his evil deeds. However, he strove hard in jihad, fought the enemies of Allah, conquered lands and spread Islam.

Allah, may He be exalted, will judge him. We condemn before Allah his oppression and transgression, and we declare our love and support for those of the Muslim leaders among the Sahaabah and Taabi‘een against whom he transgressed. We regard him as an enemy because of his mistreatment of them, and we leave his final judgement to Allah, may He be exalted.

It is better not to focus on him and worry about him. How good are the words narrated by Imam Ahmad (may Allah have mercy on him) in az-Zuhd (p. 332) from Bilaal ibn al-Mundhir, who said: A man said: If I do not ask ar-Rabee‘ ibn Khaytham today about what happened, I will never find out his view. I said: O Abu Yazeed, the son of Faatimah (peace be upon her) – meaning al-Husayn – was killed. He said: Inna Lillahi wa inna ilayhi raaji‘oon (Indeed we belong to Allah , and indeed to Him we will return), then he recited the verse (interpretation of the meaning): {Say, “O Allah , Creator of the heavens and the earth, Knower of the unseen and the witnessed, You will judge between your servants concerning that over which they used to differ”} [az-Zumar 39:46].

I said: What do you say? He said: What should I say? To Allah they will return and Allah will bring them to account.

And Allah knows best.

See: Wafiyyaat al-A‘yaan (2/29-46); Taareekh Dimashq (12/113-123); Taareekh al-Islam (5/310-316; 6/314-327).