Saturday, June 22, 2024

YAHYA BIN SYARAF BIN HASAN BIN HUSAIN AN-NAWAWI AD-DIMASYQIY (IMAM NAWAWI) [أبو زكريا يحيى بن شرف النووي]

Beliau adalah Yahya bin Syaraf bin Hasan bin Husain An-Nawawi Ad-Dimasyqiy, Abu Zakaria. Beliau dilahirkan pada bulan Muharram tahun 631 H di Nawa, sebuah kampung di daerah Dimasyq (Damascus) yang sekarang merupakan ibukota Suriah. Beliau dididik oleh ayah beliau yang terkenal dengan kesalehan dan ketakwaan. Beliau mulai belajar di katatib (tempat belajar baca tulis untuk anak-anak) dan hafal Al-Quran sebelum menginjak usia baligh.

Ketika berumur sepuluh tahun, Syaikh Yasin bin Yusuf Az-Zarkasyi melihatnya dipaksa bermain oleh teman-teman sebayanya, namun ia menghindar, menolak dan menangis karena paksaan tersebut. Syaikh ini berkata bahwa anak ini diharapkan akan menjadi orang paling pintar dan paling zuhud pada masanya dan bisa memberikan manfaat yang besar kepada umat Islam. Perhatian ayah dan guru beliaupun menjadi semakin besar.

An-Nawawi tinggal di Nawa hingga berusia 18 tahun. Kemudian pada tahun 649 H ia memulai rihlah thalabul ilmi-nya ke Dimasyq dengan menghadiri halaqah-halaqah ilmiah yang diadakan oleh para ulama kota tersebut.

Ia tinggal di madrasah Ar-rawahiyyah di dekat Al-Jami’ Al-Umawiy. Jadilah thalabul ilmi sebagai kesibukannya yang utama.

Disebutkan bahwa ia menghadiri dua belas halaqah dalam sehari. Ia rajin sekali dan menghafal banyak hal. Ia pun mengungguli teman-temannya yang lain.

Ia berkata: “Dan aku menulis segala yang berhubungan dengannya, baik penjelasan kalimat yang sulit maupun pemberian harakat pada kata-kata. Dan Allah telah memberikan barakah dalam waktuku.” [Syadzaratudz Dzahab 5/355].

Diantara syaikh beliau: Abul Baqa’ An-Nablusiy, Abdul Aziz bin Muhammad Al-Ausiy, Abu Ishaq Al-Muradiy, Abul Faraj Ibnu Qudamah Al-Maqdisiy, Ishaq bin Ahmad Al-Maghribiy dan Ibnul Firkah. Dan diantara murid beliau: Ibnul ‘Aththar Asy-Syafi’iy, Abul Hajjaj Al-Mizziy, Ibnun Naqib Asy-Syafi’iy, Abul ‘Abbas Al-Isybiliy dan Ibnu ‘Abdil Hadi.

Pada tahun 651 H ia menunaikan ibadah haji bersama ayahnya, kemudian ia pergi ke Madinah dan menetap disana selama satu setengah bulan lalu kembali ke Dimasyq. Pada tahun 665 H ia mengajar di Darul Hadits Al-Asyrafiyyah (Dimasyq) dan menolak untuk mengambil gaji.

Beliau digelari Muhyiddin (yang menghidupkan agama) dan membenci gelar ini karena tawadhu’ beliau. Disamping itu, agama islam adalah agama yang hidup dan kokoh, tidak memerlukan orang yang menghidupkannya sehingga menjadi hujjah atas orang-orang yang meremehkannya atau meninggalkannya.

Diriwayatkan bahwa beliau berkata: “Aku tidak akan memaafkan orang yang menggelariku Muhyiddin.”

Imam An-Nawawi adalah seorang yang zuhud, wara‘ dan bertaqwa. Beliau sederhana, qana’ah dan berwibawa. Beliau menggunakan banyak waktu beliau dalam ketaatan. Sering tidak tidur malam untuk ibadah atau menulis. Beliau juga menegakkan amar ma’ruf nahi munkar, termasuk kepada para penguasa, dengan cara yang telah digariskan Islam.

Beliau menulis surat berisi nasehat untuk pemerintah dengan bahasa yang halus sekali.

Suatu ketika beliau dipanggil oleh raja Azh-Zhahir Bebris untuk menandatangani sebuah fatwa. Datanglah beliau yang bertubuh kurus dan berpakaian sangat sederhana.

Raja pun meremehkannya dan berkata: “Tandatanganilah fatwa ini!!”

Beliau membacanya dan menolak untuk membubuhkan tanda tangan.

Raja marah dan berkata: “Kenapa !?”

Beliau menjawab: “Karena berisi kedhaliman yang nyata.”

Raja semakin marah dan berkata: “Pecat ia dari semua jabatannya!”

Para pembantu raja berkata: “Ia tidak punya jabatan sama sekali.”

Raja ingin membunuhnya tapi Allah menghalanginya.

Raja ditanya: “Kenapa tidak engkau bunuh dia padahal sudah bersikap demikian kepada Tuan?”

Raja pun menjawab: “Demi Allah, aku sangat segan padanya.”

Imam Nawawi meninggalkan banyak sekali karya ilmiah yang terkenal. Jumlahnya sekitar empat puluh kitab, diantaranya:Dalam bidang hadits: Arba’in, Riyadhush Shalihin, Al-Minhaj (Syarah Shahih Muslim), At-Taqrib wat Taysir fi Ma’rifat Sunan Al-Basyirin Nadzir.
Dalam bidang fiqih: Minhajuth Thalibin, Raudhatuth Thalibin, Al-Majmu’.
Dalam bidang bahasa: Tahdzibul Asma’ wal Lughat.
Dalam bidang akhlak: At-Tibyan fi Adab Hamalatil Qur’an, Bustanul Arifin, Al-Adzkar.

Kitab-kitab ini dikenal secara luas termasuk oleh orang awam dan memberikan manfaat yang besar sekali untuk umat. Ini semua tidak lain karena taufik dari Allah Ta’ala, kemudian keikhlasan dan kesungguhan beliau dalam berjuang.

Secara umum beliau termasuk salafi dan berpegang teguh pada manhaj ahlul hadits, tidak terjerumus dalam filsafat dan berusaha meneladani generasi awal umat dan menulis bantahan untuk ahlul bid’ah yang menyelisihi mereka.

Namun beliau tidak ma’shum (terlepas dari kesalahan) dan jatuh dalam kesalahan yang banyak terjadi pada ulama-ulama di zaman beliau yaitu kesalahan dalam masalah sifat-sifat Allah Subhanahu wa ta’ala.

Beliau kadang men-ta’wil dan kadang-kadang tafwidh.

Orang yang memperhatikan kitab-kitab beliau akan mendapatkan bahwa beliau bukanlah muhaqqiq dalam bab ini, tidak seperti dalam cabang ilmu yang lain. Dalam bab ini beliau banyak mendasarkan pendapat beliau pada nukilan-nukilan dari para ulama tanpa mengomentarinya.

Adapun memvonis Imam Nawawi sebagai Asy’ari, itu tidak benar karena beliau banyak menyelisihi mereka (orang-orang Asy’ari) dalam masalah-masalah aqidah yang lain seperti ziyadatul iman dan khalqu af’alil ‘ibad.

Karya-karya beliau tetap dianjurkan untuk dibaca dan dipelajari, dengan berhati-hati terhadap kesalahan-kesalahan yang ada. Tidak boleh bersikap seperti kaum Haddadiyyun yang membakar kitab-kitab karya beliau karena adanya beberapa kesalahan di dalamnya.

Komite Tetap untuk Riset Ilmiah dan Fatwa kerajaan Saudi ditanya tentang aqidah beliau dan menjawab: “Lahu aghlaath fish shifat” (Beliau memiliki beberapa kesalahan dalam bab sifat-sifat Allah).

Imam Nawawi meninggal pada 24 Rajab 676 H –rahimahullah wa ghafara lahu-.

Catatan: Lihat biografi beliau di Tadzkiratul Huffazh 4/1470, Thabaqat Asy-Syafi’iyyah Al-Kubra 8/395, dan Syadzaratudz Dzahab 5/354


***

Disusun Oleh: Ustadz Anas Burhanuddin, Lc.
Artikel: Muslim.or.id

Copyright © 2024 muslim.or.id

****************************************************************

Yahya bin Syarf An Nawawi, atau lebih dikenal dengan Imam Nawawi adalah ulama Syafi’iyah yang sudah sangat ma’ruf di tengah-tengah kita. Keseharian aktivitas beliau menunjukkan bahwa beliau adalah orang yang menjaga waktu dengan baik, diisi dengan hal-hal yang manfaat. Sampai di jalan pun, beliau masih sempat baca dan muthola’ah (mengkaji) kitab, bahkan waktu makan pun dikurangi gara-gara ingin belajar. Masya Allah …


************************************************************

– Ibnu Hajar dan An Nawawi rahimahumallah memang dalam beberapa masalah aqidah terdapat ketergelinciran terutama dalam pembahasan Asma’ wa Shifat, di mana mereka berdua di antara orang yang mentakwil makna nama dan sifat Allah tanpa dalil. Namun demikianlah kesalahan ini tertutupi dengan kemanfaatan ilmu dan keutamaan mereka. Moga Allah merahmati mereka.


*******************************************************************

An-Nawawi 
أبو زكريا يحيى بن شرف النووي

Scholar: 70001 - An-Nawawi [Abu Zakaria] 
7th Century AH [Shafi'ee]

Full Name: Mohiuddin Yahya Ibn Sharaf al-Nawawi
Parents: Sharaf An-Nawawi
Birth Date/Place: 631 AH/1234 CE (Nawa near Damascus, Syria)
Death Date/Place: 676 AH/1278 CE (Nawa)[ Natural ]
Places of Stay: Nawa/Damascus/Makkah
Area of Interest: Hadith, Fiqh, Aqeedah, Tafsir/Quran
Spouse(s): Never Married
Children : None

Teachers/
Narrated From: Ishaaq ibn Ahmad al-Maghrabi(d. 650AH), Abdur-Rahmaan al-Ambari (d. 661 AH), Abdul-Azeez al-Ansaari (d. 662 AH), Abu Ishaaq Ibraaheem al-Waasiti., Abdur Rahman bin Nooh Almaqdisi, Umar bin Asa'ad Ar-Rabia, Abul Hasan Arbali, Abu Ushaq Ibrahim Muradi, Abul Baqa Khalid bin Yusuf Nablusi, Zia bin Tasam Hanafi, Abul Abbas Ahmad Misri, Abu Abdullah Jiyani, Abul Fath Umar Bin Bandar, Abu Abbas maghribi, Abu Muhammad Tanukhi, Abu Muhammed Ansari, Abu Farj Maqdisi

Students/
Narrated By: Alaudin bin Athar, Abdul Abbas Ahmad bin Ibrahim, Abul Abbas Jafri, Abdul Abbas Ahmad bin Farj, Rashid Ismail bin Moallim Hanafi, Abu Abdullah Hambli, Abul Abbas Wasti, Jamaluddin Suliman bin Omar Al-Dara'ee, Abdul Farj Maqdisi, Badr Muhammed bin Ibrahim, Shams Muhammed bin Abi Bakr, Shihab Muhammad bin Abdul Khaliq, Sharaf Hibbullah, Abdul Hajaj Mazni

Analysis: [] [Family Tree 2] [Teacher/Student Tree] [] [] []

Brief Biography:

He studied in Damascus from the age of 18 and after making the Hajj in 1253 he settled there as a private scholar. From a young age he showed signs of great intelligence, and so his father paid for a good education. As a qadi (judge), he was much sought after for advice and adjudication of disputes. During his short life of only 45 years, he wrote many books on Islamic studies and other topics. He collected and sourced 40 hadiths back to one of the sahabaeen (companions of the Prophet Muhammad (pbuh), which was no small task.
The learned persons, elite of the society and the public greatly respected the Imaam on account of his piety, learning and excellent character. He used simple dress and ate simple food. Devout scholars do not care about worldly chattels, they give preference to religious and academic pursuits, and the propagation of Faith. They experience more heavenly delight and joy in such activities than those who seek satisfaction in luxurious foods, precious clothes and other worldly things. Imaam an-Nawawi had a prominent place among the erudite notables of his age. He was a God-fearing person having illustrious and glorious aims regarding the propagation of Faith.
Imam Nawawi had endless thirst for knowledge. He used to read twelve lessons daily and wrote commentaries on every lesson. Whatever books he read, he would write marginal notes and explanations on each book. His intelligence, hard work, love, devotion and absorption in his studies amazed his teachers and they became fond of him and began to praise and admire him. Allah had also conferred upon him the gift of fast memorisation and depth of thought. Imam Nawawi made full benefit of his God given qualities and potentialities and earned the highest degree of honor.
Imam Nawawi led a life of singular piety, righteousness and simplicity. After over 20 years, he returned to his hometown. Soon after his arrival at Nawa, he fell ill and died in 676 A.H. (1278 AD).
http://www.islaam.net/40hadeeth/nawawi.html

Last Updated: 2010-05-08
References: Riyad al-Saleheen View

https://muslimscholars.info/manage.php?submit=scholar&ID=70001

No comments:

Post a Comment